Hukum Menyembelih Pada Hari Tertentu Untuk Mayit

MediaMuslim.Info – Seorang muslim meninggal dunia, sementara itu dia memiliki banyak anak dan harta. Bolehkah anak-anaknya menyembelih kambing untuknya atau membuatkan roti (makanan) pada hari ketujuh atau keempat puluh sebagai hadiah atas nama bapaknya dengan mengundang kaum muslimin ?

Sedekah yang di berikan atas nama orang yang meninggal dunia adalah disyari’atkan. Memberi makan fakir miskin dan para tetangga, serta memuliakan kaum muslimin (dengan menjamunya), adalah bentuk-bentuk kebajikan dan kebaikan yang di anjurkan oleh syari’at. Akan tetapi, menyembelih kambing, sapi, onta, unggas atau hewan-hewan lainnya pada hari kematian atau pada hari-hari tertentu (sesudahnya), seperti hari ketujuh atau keempat puluh adalah perbuatan yang tidak ada didalam Islam. Demikian pula membuat roti (makanan) pada hari-hari tertentu, hari ketujuh atau keempat puluh, atau pada hari Kamis dan Jum’at atau malam harinya, untuk di sedekahkan atas nama si mayyit adalah penyimpangan yang tidak pernah ada pada masa Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Karena itulah wajib meninggalkan penyimpangan ini sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya, maka (amal itu) tertolak !” (HR: Bukhari). Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lainnya, yang artinya: “Tinggalkanlah perkara-perkara yang baru dalam agama ini. Sesungguhnya setiap perkara baru dalam urusan agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. “ Yang di syari’atkan bagi ahli waris adalah bersedekah untuk yang meninggal dunia tanpa harus menentukan (membatasi) hari-hari tertentu, dan tanpa meyakini bahwa sedekah yang di lakukan pada waktu-waktu itu memiliki keutamaan. Kecuali apa yang memang telah di syari’atkan, seperti sedekah pada bulan Romadhon dan hari kesepuluh bulan Dzulhijjah, karena adanya keutamaan dan lipat ganda pahala pada waktu-waktu itu. Wallahu a’lamu bis shawwab.

(Sumber Rujukan: Buletin Dakwah AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 16 / Robi’ul Awal / 1425. Fatwa Lajnah Ad Daaimah lilbuhuts al Ilmiyyah wal Ifta’ [Panitia Tetap untuk fatwa, Kerajaan Saudi Arabia], sebagaimana dalam fatawa li Al-Lajnah Ad-Daimah [1/217])

No comments yet

Tinggalkan Jawapan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

  • Kiriman Terbaru

  • Komen Terbaru

    Aku Lagi on Amalan2 bida’ah dlm masy…
    rully oktario edison… on Berhati-hati atas perkara yang…
    Arjun Sang Pengembar… on Ilmu Laduni, Antara Hakikat da…
    Ervydal Nasir on Ilmu Laduni, Antara Hakikat da…
    Kang Setro Suprapto on Ilmu Laduni, Antara Hakikat da…
  • Arkib

  • Blog Stats

  • %d bloggers like this: