<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanan's Blog</title>
	<atom:link href="http://hananismail.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hananismail.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Feb 2011 23:42:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>ms</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hananismail.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanan's Blog</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hananismail.wordpress.com/osd.xml" title="Hanan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hananismail.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SEJARAH DAN FITNAH TASAWWUF</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/sejarah-dan-fitnah-tasawwuf/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/sejarah-dan-fitnah-tasawwuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/sejarah-dan-fitnah-tasawwuf/</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang  sufi  pada  periode-periode  pertama  menetapkan untuk  merujuk (kembali) kepada Al-Quran  dan  As-Sunnah,  namun kemudian Iblis memperdayai mereka karena ilmu mereka yang sedikit sekali. Ibnul Jauzi (wafat 597H) yang terkenal dengan bukunya  Talbis Iblis menyebutkan contoh,  Al-Junaid  (tokoh  sufi) berkata, &#8220;Madzhab  kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.&#8221; Dia  (Al-Junaid) juga berkata, &#8220;Kami tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=132&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Orang-orang  sufi  pada  periode-periode  pertama  menetapkan untuk  merujuk  (kembali) kepada Al-Quran  dan  As-Sunnah,  namun kemudian Iblis memperdayai  mereka karena ilmu mereka yang sedikit sekali.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Ibnul Jauzi (wafat 597H)  yang terkenal dengan bukunya  Talbis Iblis menyebutkan contoh,  Al-Junaid   (tokoh  sufi) berkata, &#8220;Madzhab  kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab  dan As-Sunnah.&#8221;</font><span id="more-132"></span></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Dia  (Al-Junaid) juga  berkata, &#8220;Kami tidak  mengambil  tasawuf dari perkataan orang ini dan itu,  tetapi dari rasa lapar, mening­galkan dunia, meninggalkan kebiasan sehari-hari  dan hal-hal  yang dianggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari kesucian   mu&#8217;amalah (pergaulan) dengan Allah dan dasarnya adalah memisahkan diri dari  dunia.&#8221;</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Komentar  Ibnul  Jauzi,  jika seperti ini  yang  dikatakan  para syeikh  mereka, maka dari syeikh-syeikh  yang lain  muncul banyak kesalahan  dan penyimpangan, karena mereka menjauhkan   diri  dari ilmu.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Jika memang begitu  keadaannya, lanjut Ibnul Jauzi, maka  mereka harus disanggah, karena tidak perlu  ada sikap manis  muka  dalam menegakkan  kebenaran.  Jika tidak benar, maka kita   tetap  harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan  mereka.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Dicontohkan  suatu   kasus, Imam Ahmad  bin  Hanbal  (780-855M) pernah berkata tentang diri Sary  As-Saqathy, &#8220;Dia seorang  syeikh yang  dikenal  karena suka menjamu makanan.&#8221;   Kemudian  ada  yang mengabarinya  bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah   menciptakan huruf-huruf,  maka huruf ba&#8217; sujud kepada-Nya. Maka seketika  itu  pula  Imam Ahmad berkata: &#8220;Jauhilah dia!&#8221; (Ibnul  Jauzi,  Talbis Iblis, Darul  Fikri, 1368H, hal 168-169).</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Kapan awal munculnya  tasawuf</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Tentang  kapan awal  munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi  mengemuka­kan,  yang pasti, istilah sufi muncul  sebelum tahun 200H.  Ketika pertama  kali  muncul, banyak orang yang   membicarakannya  dengan berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan  mereka  meru­pakan  latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak  yang hina lalu membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di  dunia dan pahala di akherat.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Begitulah yang terjadi  pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang talbis Iblis  (tipuan mencampur  adukkan  yang haq dengan yang batil hingga yang batil  dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai hal. Lalu Iblis   memperdayai  orang-orang setelah itu daripada pengikut  mereka. Setiapkali   lewat  satu  kurun waktu, maka  ketamakan  Iblis  untuk memperdayai mereka  semakin menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan  telah berada dalam talbis Iblis. </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Talbis Iblis yang  pertama kali terhadap mereka adalah  mengha­langi  mereka mencari ilmu. Ia  menampakkan kepada  mereka  bahwa maksud  ilmu  adalah amal. Ketika pelita ilmu  yang ada  di  dekat mereka  dipadamkan, mereka pun menjadi linglung dalam   kegelapan.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Di  antara  mereka ada  yang diperdaya Iblis,  bahwa  maksud  yang harus digapai adalah meninggalkan  dunia secara total. Mereka  pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan  bagi badan, mereka menyerupakan  harta dengan kalajengking, mereka   berlebih-lebihan dalam  membebani  diri,  bahkan di antara mereka  ada  yang   sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur. </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Sebenarnya  tujuan  mereka itu bagus. Hanya saja mereka  meniti jalan yang tidak benar dan diantara  mereka ada yang karena minim­nya ilmu, lalu berbuat berdasarkan hadits-hadits  maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya.</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Syari&#8217;at dianggap ilmu lahir  hingga aqidahnya rusak </font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Kemudian  datang  suatu  golongan yang lebih  banyak  berbicara tentang rasa lapar, kemiskinan,  bisikan-bisikan hati dan  hal-hal yang  melintas di dalam sanubari, lalu mereka  membukukan  hal-hal itu,  seperti  yang dilakukan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (meninggal 857M). Ada pula golongan lain yang mengikuti jalan tasawuf,  menyendiri  dengan  ciri-ciri tertentu,  seperti  mengenakan  pakaian  tambal-tambalan,  suka mendengarkan syair-syair, memukul  rebana, tepuk  tangan  dan sangat berlebih-lebihan dalam masalah  thaharahdan  kebersihan. Masalah ini  semakin lama  semakin  menjadi-jadi, karena para syaikh menciptakan topik-topik  tertentu,  berkata menurut  pandangannya  dan  sepakat untuk  menjauhkan  diri  dari ulama.  Memang mereka masih tetap menggeluti ilmu, tetapi  mereka  menamakannya ilmu batin, dan mereka menyebut ilmu syari&#8217;at  seba­gai ilmu  dhahir. Karena rasa lapar yang mendera perut, mereka pun membuat   khayalan-khayalan yang musykil, mereka  menganggap  rasa lapar  itu sebagai  suatu kenikmatan dan kebenaran. Mereka  memba­yangkan sosok yang bagus rupanya,  yang menjadi teman tidur  mere­ka. Mereka itu berada di antara kufur dan bid&#8217;ah.  </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Kemudian  muncul  beberapa golongan lain yang  mempunyai  jalan sendiri-sendiri, dan akhirnya  aqidah mereka jadi rusak. Di antara mereka  ada  yang  berpendapat tentang   adanya  inkarnasi/hulul (penitisan)  yaitu Allah menyusup ke dalam diri makhluk   dan  ada yang  menyatakan  Allah menyatu dengan  makhluk/ ittihad. Iblis  senantiasa menjerat mereka dengan berbagai macam bid&#8217;ah, sehingga mereka membuat  sunnah tersendiri bagi mereka. (ibid, hal 164).</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Perintis tasawuf tak  diketahui pasti</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Abdur  Rahman Abdul  Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus  Shufi  fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan,  tidak diketahui secara  tepat siapa  yang  pertama kali menjadi sufi di kalangan   ummat  Islam. Imam  Syafi&#8217;i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, &#8220;Kami   ting­galkan  kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran   yang  tidak percaya kepada Tuhan,  berasal  dari  Persia; orang  yang   menyelundup ke dalam Islam,  berpura-pura  &#8211;menurut Leksikon Islam, 2, hal  778) telah mengadakan sesuatu  yang  baru yang mereka namakan assama&#8217;   (nyanyian).</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Kaum  zindiq  yang  dimaksud Imam Syafi&#8217;i  adalah  orang-orang sufi. Dan assama&#8217; yang dimaksudkan  adalah nyanyian-nyanyian  yang mereka  dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam   Syafi&#8217;i  masuk Mesir tahun 199H.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Perkataan Imam Syafi&#8217;i  ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum  zindiq tampaknya sudah dikenal  sebelum  itu. Alasannya, Imam Syafi&#8217;i  sering   berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">&#8220;Seandainya  seseorang  menjadi sufi pada pagi hari, maka  siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang  dungu.&#8221;</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Dia  (Imam Syafi&#8217;i) juga  pernah berkata: &#8220;Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu   akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.&#8221; (Lihat Talbis  Iblis, hal  371). </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Semua  ini,  menurut  Abdur Rahman Abdul  Khaliq,  menunjukkan bahwa  sebelum berakhirnya  abad kedua   Hijriyah  terdapat  satu kelompok  yang  di kalangan ulama Islam  dikenal   dengan  sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan  mutashawwi­fah (kaum sufi).</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Imam Ahmad (780-855M)  hidup sezaman dengan Imam Syafi&#8217;i  (767-820M),  dan pada mulanya berguru kepada  Imam  Syafi&#8217;i.  Perkataan Imam  Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang  tertentu  yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di   antara­nya  ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa  ten­tang   perkataan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (tokoh  sufi, meninggal 857M). Lalu Imam  Ahmad bin Hanbal berkata:</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">&#8220;Aku  nasihatkan   kepadamu,  janganlah  duduk  bersama  mereka (duduk dalam majlis Al-Harits  Al-Muhasibi)&#8221;.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Imam  Ahmad  memberi  nasihat seperti itu karena  beliau  telah melihat  majlis  Al-Harits   Al-Muhasibi. Dalam  majlis  itu  para peserta  duduk dan menangis &#8211;menurut  mereka&#8211;  untuk  mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang  jahat. (Perlu kita  cermati,  kini ada kalangan-kalangan muda  yang mengadakan  daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun  nafsi/  mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang  mereka sebut renungan, dan mereka  menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah  perbuatan mereka  itu  ada  dalam   sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi  itu?).</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Abad III H Sufi mulai  berani, semua tokohnya dari Parsi</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Tampaknya, Imam Ahmad  bin Hanbal radhiyallahu`anhu mengucapkan perkataan tersebut pada awal abad  ketiga Hijriyah. Namun  sebelum abad  ketiga  berakhir, tasawuf telah muncul  dalam  hakikat  yang sebenarnya,  kemudian tersebar luas di tengah-tengah  umat,   dan kaum sufi telah berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya  mereka  sembunyikan.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Jika kita meneliti  gerakan sufisme sejak awal  perkembangannya hingga kemunculan secara  terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada  abad ketiga dan  keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu  pusat  agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian  menjadi  pusat  Agama Syi&#8217;ah), tidak ada yang berasal dari Arab.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Sesungguhnya tasawuf  mencapai puncaknya, dari segi aqidah  dan hukum, pada akhir abad ketiga  Hijriyah, yaitu tatakla Husain  bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan  keyakinannya di depan pengua­sa,  yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu   dengan  dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan  bahwa   dia telah kafir dan harus dibunuh.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Pada tahun 309H/ 922M  ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin  Manshur Al-Hallaj dilaksanakan.  Meskipun demikian,  sufisme tetap  menyebar  di negeri Parsi, bahkan kemudian   berkembang  di Irak.</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Abad keempat mulai muncul  thariqat/ tarekat</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Tersebarnya  sufisme   didukung oleh Abu Sa`id  Al-Muhani.  Ia mendirikan tempat-tempat penginapan  yang dikelola secara  khusus yang selanjutnya ia ubah menjadi markas sufisme.  Cara  penyebaran sufisme seperti itu diikuti oleh para tokoh Sufi lainnya  sehingga pada pertengahan abad keempat Hijriyah berkembanglah cikal  bakal  thariqat/  tarekat sufiyah, kemudian secara  cepat tersebar di Irak, Mesir, dan  Maghrib (Maroko).</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Pada abad keenam  Hijriyah muncul beberapa tokoh tasawuf,  mas­ing-masing mengaku bahwa dirinya  keturunan Rasulullah SAW, kemud­ian  mendirikan tempat thariqat sufiyah dengan   pengikutnya  yang tertentu. Di Irak muncul thariqat sufiyah Ar-Rifa`i   (Rifa&#8217;iyah); di  Mesir  muncul Al-Badawi, yang tidak diketahui siapa  ibunya,  siapa bapaknya, dan siapa keluarganya; demikian juga Asy-Syadzali </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">(Syadzaliyah/   Syadziliyah) yang muncul di Mesir. Dari  thariqat-thariqat tersebut muncul  banyak cabang thariqat sufiyah.</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Abad ke-6,7, &amp; 8 puncak  fitnah shufi</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Pada  abad  keenam,   ketujuh, dan  kedelapan  Hijriyah  fitnah sufisme  mencapai puncaknya.  Kaum   Sufi  mendirikan   kelompok-kelompok khusus, kemudian di berbagai tempat  dibangun kubah-kubah di atas kuburan. Semua itu terjadi setelah tegaknya Daulah  Fathi­miyah  (kebatinan) di Mesir, dan setelah perluasan kekuasaan  ke  wilayah-wilayah dunia Islam. Lalu, kuburan-kuburan palsu  muncul, seperti  kuburan Husain bin Ali radliyallahu `anhuma di Mesir, dan kuburan Sayyidah  Zainab. Setelah itu, mereka mengadakan peringatan  maulid  Nabi, mereka  melakukan bid`ah-bid`ah  dan  khufarat-khufarat. Pada akhirnya mereka  meng-ilahkan (menuhankan) Al-Hakim Bi-Amrillah Al-Fathimi Al-Abidi.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Propaganda  yang   dilakukan oleh  Daulah  Fathimiyah  tersebut berawal  dari Maghrib  (Maroko),   mereka  menggatikan kekuasaan Abbasiyah  yang  Sunni. Daulah Fathimiyah   berhasil  menggerakkan kelompok Sufi untuk memerangi dunia Islam.  Pasukan-pasukan kebat­inan tersebut kemudian menjadi penyebab utama berkuasanya  pasukan salib (Kristen Eropa) di wilayah-wilayah Islam.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Pada abad kesembilan,  kesepuluh, dan kesebelas Hijriyah, telah muncul  berpuluh-puluh  thariqat   sufiyah,  kemudian  aqidah  dan syari`at Sufi tersebar di tengah-tengah umat.  Keadaan yang merata berlanjut sampai masa kebangkitan Islam baru.</font></p>
<p class="MsoNormal"><strong><font face="Arial Unicode MS">Ibnu Taimiyyah dan  murid-muridnya memerangi shufi</font></strong></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Sesungguhnya kebangkitan  Islam sudah mulai tampak pada akhir abad ketujuh dan awal abad kedelapan  Hijriyah, yaitu tatkala Imam Mujahid Ahmad bin Abdul-Hakim Ibnu Taimiyyah  (1263-1328M) meme­rangi seluruh aqidah yang menyimpang melalui pena dan  lisannya, di antara yang diperangi adalah aqidah kaum Sufi.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Setelah itu, perjuangan  beliau dilanjutkan oleh murid-muridnya, seperti Ibnul-Qayyim (Damaskus  1292-1350M), Ibnu-Katsir (wafat 774H), Al-Hafizh Adz-Dzahabi, dan Ibnu  Abdil-Hadi.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Meskipun  mendapat  serangan, tasawuf, dan aqidah-aqidah  batil terus mengakar, hingga berhasil  menguasai umat. Namun, pada  abad kedua belas hijriyah Allah mempersiapkan Imam  Muhammad bin Abdul-Wahhab untuk umat Islam. Ia mempelajari buku-buku Syaikh Ibnu  Taimiyyah, kemudian bangkit memberantas dan memerangi kebatilan. Dengan  sebab  upaya beliau, Allah merealisasikan kemunculan  ke­bangkitan Islam  baru.</font></p>
<p><span style="font-family:Arial Unicode MS;"><font size="2">Da`wah  Muhammad   bin Abdul-Wahhab disambut  oleh  orang-orang mukhlis  di seluruh penjuru dunia  Islam. Namun,  daulah  sufisme tetap  memiliki  kekuatan di berbagai wilayah   dunia  Islam,  dan simbol-simbol tasawuf masih tetap ada. Simbol-simbol tasawuf  yang dimaksudkan adalah kuburan-kuburan, syaikh-syaikh atau  guru-guru sesat,  dan aqidah-aqidah yang rusak dan batil  (lihat: Al-Fikrush-Shufi fi  Dhau`il-Kitab was Sunnah,oleh Abdur-Rahman Abdul-Khaliq, halaman 49-53, dikutip  Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah `Aqidah wa Ahdaf, Darul Wathan Riyad, I,  1410H, hal 13-17).</font></span><font face="Arial Unicode MS" size="2">  </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=132&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/sejarah-dan-fitnah-tasawwuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENAMAAN SHUFI</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/penamaan-shufi/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/penamaan-shufi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/penamaan-shufi/</guid>
		<description><![CDATA[Penamaan shufi tidak ditemukan secara pasti, dari kata apa asalnya. Ada perbedaan-perbedaan pendapat mengenai asal kata shufi ataupun tasawuf. Ibnu Taimiyah menyebutkan sebagian perbe­daan-perbedaan yang ada sebagai berikut. Dikatakan bahwa lafal shufi itu dinisbatkan (disandarkan) kepada ahli shofah (penghuni lorong dekat masjid Nabi). Ini tidak benar, karena kalau demikian maka pasti disebut shofiy. Ada pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=131&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Penamaan  shufi tidak  ditemukan secara pasti, dari  kata  apa asalnya.  Ada perbedaan-perbedaan  pendapat  mengenai asal  kata shufi ataupun tasawuf. Ibnu Taimiyah menyebutkan  sebagian  perbe­daan-perbedaan yang ada sebagai berikut.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Dikatakan  bahwa  lafal  shufi  itu  dinisbatkan  (disandarkan) kepada ahli shofah (penghuni lorong dekat  masjid Nabi). Ini tidak benar, karena kalau demikian maka pasti disebut  shofiy.</font><span id="more-131"></span></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Ada  pula yang  berpendapat, shufi itu dinisbatkan kepada  shof depan di hadapan Allah. Ini pun  salah, karena namanya jadi shofiy juga.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Konon ada yang  menisbatkan shufi kepada Shufah bin Basyar  bin Thanjah,  satu kabilah   dari  Bangsa  Arab,  mereka  bertetangga dengan Makkah dari zaman dahulu kala.  Dinisbatkanlah  orang-orang ahli  ibadah (nassak) kepada mereka. Ini, walaupun   sesuai  untuk penisbatan  dari  segi lafal yaitu tepat  jadi  &#8220;shufi&#8221; namanya,  namun penisbatan ini lemah juga. Karena mereka itu tidak terkenal dan tidak   populer bagi kebanyakan ahli ibadah.  Dan  seandainya ahli ibadah itu  dinisbatkan kepada mereka maka pastilah  penisba­tan  ini  sudah  ada pada zaman  sahabat dan  tabi&#8217;in  serta  para pengikut  mereka yang pertama. Dan lagi pada  umumnya  orang-orang yang  berbicara mengenai nama shufi itu tidak mengetahui  kabilah ini, dan tidak suka kalau dinisbatkan kepada kabilah yang ada  di zaman  jahiliyah dan tidak ada di zaman Islam.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Dan  dikatakan &#8211;ini  terkenal&#8211; bahwa shufi  itu  dinisbatkan kepada pakaian as-shuf/ bulu domba/  wool. (Majmu&#8217; Al-Fatawa oleh Ibnu  Taimiyah 11/6 dan lihat 10/510 -20/150,  As-Sufiyah  `Aqidah wa Ahdaf oleh Laila binti `Abdillah, Darul Wathan, Riyadh,  cet I, hal 1410H, hal 10-11). </font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Asal  kata shufi dari  pakaian shuf (bulu domba) ini  dikuatkan oleh  Ibnu Taimiyah, karena kenyataan  yang ada  pada  masa  Ibnu Taimiyah adalah mereka memakai pakaian kasar (bulu  domba),  seba­gai  pengakuan  untuk  zuhud (menahan  diri dengan  tidak  cinta  dunia),  dan menampakkan kesederhanaan dan kemelaratan hidup  di samping menahan  diri dari berhubungan dan minta-minta pada orang, dan mencegah diri dari air  dingin dan makan daging. Demikian pula mereka meninggalkan nikah. Sehingga  perbuatan mereka tidak sesuai dengan zuhud (tidak serakah) yang  disyari&#8217;atkan.</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Nabi  SAW telah  mengingkari orang yang ingin mendekatkan  diri kepada  Allah dengan mencegah  diri dari makan daging atau  nikah. seperti  Hadits yang telah datang dalam  kitab Shahihain  (Bukhari dan Muslim) dari Anas bin Malik, ia  berkata:</font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">&#8220;Ada satu kelompok  sahabat yang datang ke rumah Nabi saw  untuk menanyakan kepada  isteri-isteri  beliau tentang  ibadah  beliau. Setelah  mereka  diberitahu keadaan  ibadah   beliau,  seolah-olah mereka  menganggap  ibadah itu masih terlalu sedikit.   Kemudian mereka berkata-kata satu sama lain, lalu mereka bertanya, di mana  posisi  kita  dibandingkan dengan Rasulullah  saw  padahal Allah </font><font face="Arial Unicode MS" size="2">telah  mengampuni  dosa beliau, baik yang  terdahulu  maupun  yang akan  datang? Lalu salah seorang dari mereka berkata:  &#8220;Saya  akan puasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.&#8221; Yang kedua   menga­takan:  &#8220;Saya akan bangun (shalat) malam dan tidak  tidur.&#8221;  Yang ketiga   berkata: &#8220;Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya.&#8221; Lalu  Rasulullah saw datang kepada mereka  seraya bersabda:  </font></p>
<p class="MsoNormal"><font color="#000080" face="Arial Unicode MS" size="2">&#8220;Kamukah   yang telah berkata begini dan begitu tadi?  Ketahui­lah,  demi Allah, akulah  orang yang paling takut kepada Allah  di antara  kalian  dan yang paling  bertaqwa kepada-Nya,  tetapi  aku berpuasa  dan berbuka, shalat dan tidur, dan  kawin dengan  perem­puan.  Maka  barangsiap yang membenci sunnahku bukanlah ia   dari golonganku.&#8221; <strong>(HR Bukhari dan lainnya). </strong></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Arial Unicode MS" size="2">Ibnu Taimiyah dalam  menguatkan shuf (bulu domba) sebagai sebab penamaan shufi adalah karena mereka  terkenal dengan pakaian  shuf (bulu). Itu hanyalah menyebutkan gejala mereka  pada masa itu  dan sebelumnya,  yaitu pakaian shuf untuk menampakkan  zuhud.   Tetapi ada  pendapat  lain  tentang penamaan  itu menunjukkan  sebagian  pemikiran mereka, yaitu pemikiran yang kembali kepada pemikiran-pemikiran  kuno   seperti yang disebutkan oleh Al-Biruni  Abu  Ar-Rahyan yang menisbatkan tasawuf  kepada kata &#8220;Sofia&#8221; Yunani  yaitu hikmah (filsafat),  mengingat karena saling   dekatnya  pendapat-pendapat  antara pendapat orang-orang shufi dengan  para   filosof Yunani  kuno.  (al- Tasawuf al mansya&#8217; wal mashadir,  oleh  Ihsan Ilahi  Dhahir, hal 33-34).</font></p>
<p><span style="font-family:Arial Unicode MS;"><font size="2">Tasawuf itu adalah  kasus yang lebih berbahaya ketimbang  seka­dar  pakaian kasar, bahkan merupakan   pemikiran-pemikiran  buatan para filosof yang masuk ikut campur dalam Islam  padahal  sebenar­nya jauh dari Islam, tetapi disampuli dengan cover yang  menimbul­kan  pengelabuan  bahwa tasawuf itu termasuk  dalam  Islam. (As-Shufiyyah `aqidah wa ahdaf, hal 12). </font></span><strong><br />
</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/131/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/131/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=131&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/penamaan-shufi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akankah Amalku Di Terima ?</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/akankah-amalku-di-terima/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/akankah-amalku-di-terima/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/akankah-amalku-di-terima/</guid>
		<description><![CDATA[Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=130&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.</span></font></p>
<p align="left"><span></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-130"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.</span></font></p>
<p align="left"><strong><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Iman Adalah  Ucapan dan Perbuatan</span></font></strong></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah berfirman  di dalam Al Qur’an:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.</span></font></p>
<p align="left"><strong><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal</span></font></strong></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah:  148)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba- lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Lalu, kalau kita  telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti  diterima?</span></font></p>
<p align="left"><strong><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syarat Diterima  Amal</span></font></strong></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pertama, amal  harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah  Subhanahuwata’ala.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah  Subhanahuwata’ala berfirman;</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rasulullah  Sholallohualaihiwasallam bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua, amal  tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam.  Beliau bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara- perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dia Allah yang  telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus  amalannya.” (Al Mulk: 2)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kedua syarat di  atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah –  Muhammadarrasulullah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu  a’lam.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/130/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/130/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=130&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/akankah-amalku-di-terima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LIHATLAH, SIAPA TEMANMU…!</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/lihatlah-siapa-temanmu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/lihatlah-siapa-temanmu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:54:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/lihatlah-siapa-temanmu%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[“Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=129&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu.</span></font><span></span><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"> Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat- lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.</span></font></p>
<p><span id="more-129"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang balk sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah lake. Seperti ungkapan “Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hal ini telah  dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya: “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. (Riwayat Bukhari,  kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir  4/2026)1</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati- ¬hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka  perhatikanlah dengan detail teman-¬temanmu itu, karena teman ada  bermacam-macam</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• ada teman yang  bisa memberikan manfaat</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• ada teman yang  bisa memberikan kesenangan (kelezatan)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• dan ada yang  bisa memberikan keutamaan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam : ” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh- ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (Riwayat Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria¬-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat- sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka”.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu  datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">(Al-Kahfi:28)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Footnote:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1.Al Bid’ah, Dr.  Ali bin M. Nashir</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maraji  :</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Hilyah tolabul  ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Mukhtasor  Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Bid’ah  dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah,</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dr. Ali Muhammad  Nashir AlFaqih</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">• Sahsiyah  Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dikutip dari  Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419</span></font></p>
<p> 						This entry was posted 												on Tuesday, July 31st, 2007 at 4:18 am						and is filed under <a href="http://localhost/islamonly/?cat=26" title="View all posts in Manhaj Salafy" rel="category">Manhaj</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/129/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/129/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=129&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/lihatlah-siapa-temanmu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setan Pengganggu Wudhu</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/setan-pengganggu-wudhu/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/setan-pengganggu-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/setan-pengganggu-wudhu/</guid>
		<description><![CDATA[Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=128&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="storycontent">Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan “spesialis” yang pakar dalam bidangnya.<br />
<span></span>Dalam hal wudhu misalnya, ada jenis setan khusus yang beraksi di wilayah ini. Pekerjaannya fokus untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan “Al-Walahan”<br />
Nabi bersabda: “Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya.” (HR Ahmad)<span id="more-128"></span></p>
<p>Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya.</p>
<p>Waspadai Setiap Jurusnya</p>
<p>Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk mengeja niat.<br />
Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu akativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa<br />
hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.</p>
<p>Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi “segala sesuatu tergantung niatnya.” Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat<br />
ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.</p>
<p>Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya: “Celakalah tumit dari neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki …” (QS. al-Maidah : 6)</p>
<p>Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa istinsyaq atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.</p>
<p>Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.</p>
<p>Boros Menggunakan Air</p>
<p>Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat,. al-walahan memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).</p>
<p>Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu, beliau bersabda: “Janganlah boros dalam menggunakan air.” Sa’ad berkata: “Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?” beliau menjawab: “Ya, meskipun<br />
&gt; engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Talbis Iblis”, hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.</p>
<p>Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.</p>
<p>Ragu-Ragu Ketika Berwudhu</p>
<p>Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.</p>
<p>Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: “Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?” Ibnu Uqail menjawab: “Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat.”</p>
<p>Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban. Wallahua’lam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/128/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/128/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=128&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/setan-pengganggu-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Saba` Tokoh Fiktif?</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/abdullah-bin-saba-tokoh-fiktif/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/abdullah-bin-saba-tokoh-fiktif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/abdullah-bin-saba-tokoh-fiktif/</guid>
		<description><![CDATA[Dakwaan yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu dielu-elukan oleh orang syi`ah modern dan orang orentalis, agar mereka bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah. Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberadaan Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=127&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="storycontent"><em><strong>Dakwaan yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu dielu-elukan oleh orang syi`ah modern dan orang orentalis, agar mereka bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah.</strong></em><span id="more-127"></span><span></span><span></span></p>
<p>Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberadaan Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya :</p>
<p>1) An Nasyi Al Akbar (293 H) mencantumkan tantang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, yang teksnya: Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali `alaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba. Dan adalah Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk San`a, seorang yahudi, telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al Madain….<br />
Ref : Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat / ditahqiq oleh Yusuf Faan As, (Bairut 1971) hal : 22, 23.</p>
<p>2) Al Qummi (301 H), menyebutkan : Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Alipun menanyakannya akan hal itu, maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru : Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al Madain<br />
Ref : Al Maqaalat wal Firaq, hal : 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbu`ati `athani, Teheran 1963.</p>
<p>3) An Naubakhti (310H) menyetujui Al Qummi dalam memperkuat barita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu : Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.<br />
Ref : Firaqus Syi`ah : hal : 23. oleh Abu Muhammad Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931.</p>
<p>4) AL Kisysyi mencantumkan (dari tokoh-tokoh abad ke empat) beberapa riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar beritanya, dan ini sebagiannya: Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Quluwiyah Al Qummi, ia berkata : telah menceritakan kepada saya Sa`ad bin Abdillah bin Abi Khalaf Al Qummi, ia berkata telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al Abdi dari Yunus dengannya, Abdurrahman bin Abdillah bin Sinan telah berkata : telah menceritakan kepada saya Abu Ja`far Alaihis Salam : sesungguhnya Abdullah bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam, sebagai Allah, Maha tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui hal itu, dan berkata : Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya : Celaka kamu, sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebanaran) dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan api, dan berkata : syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan membisikkan ke dalam hatinya hal itu.<br />
Ref : Al Kisysyi : Rajalul Kasysyi hal : 98, 99, Ma`rifatu Akhbaarir Rijaal (al mathba`ah al musthafawiyah 1317) hal : 70.</p>
<p>5) Abu Hatim Ar Razi (322H) (bukan Abu Hatim Sunni karena ia meninggal th 277 H) menyebutkan bahwasanya Abdullah bin Saba dan orang-orang yang mengikuti perkataannya dari kalangan As Sabaiyah, adalah mereka mendakwakan sesungguhnya Ali adalah Tuhan dan beliau menghidupkan orang mati, dan mendakwakah menghilangnya Ali setelah meninggal dunia dan berhenti sebatas itu…<br />
Ref : Az Zinah Fil Kalimaatil Islamiyah Al `Arabiyah, hal : 305. ditahqiq oleh DR. Abdullah bin Salum As Samiraai (terbitan Daarul Huriyah litaba`ah, di baghdad 1392 H / 1972).</p>
<p>6) Berkata syeikh golongan ini : Abu Ja`far Muhammad bin Al Hasan at Thuusi (460 H) tentang Ibnu Saba, bahwa sesungguhnya ia telah kembali kepada kekafiran dan menampakkan pujian yang melampaui batas, kemudian ia menukilkan di kitabnya Tahdziibul Ahkaam sikap Ibnu Saba dimana ia menantang Ali dalam mengangkat kedua tangan ke langit.<br />
Ref : At Thuusi Tahdziibul Ahkaam (diterbitkan oleh Darul Kutub Al Islamiyah / Teheran, cetakan ke dua) dita`liq oleh Hasan AL Musawi, 2/322.</p>
<p>7) Al Hasan  bin Ali Al Hulliy (726 H) menyebutkan Abdullah bin Saba dari golongan-golongan orang yang lemah (tercela).<br />
Ref : Ar Rijaal (cetakan AL Haidariyah / An Najfah 1392 H) : 2/71.</p>
<p><img src="http://localhost/zonaislam/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" class="wp-smiley" /> Adapun Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H) yang ia itu adalah orang mu`tazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan termasuk imam (tokoh) syi`ah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat keberadaan Ibnu saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama kali membuat perkataan adanya nas (ketetapan keimaman), dan perkataan keimaman dua belas imam.<br />
Ref : Tabaqatul Mu`tizilah (diterbitkan oleh Faranz Syatain / cetakan Al Katolikiyah / Bairut hal : 5 dan 6) dan lihat juga Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal : 5.</p>
<p>Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku syi`ah dan riwayat-riwayat mereka tentang Abdullah bin Saba, dan saya sebutkan di riwayat-riwayat di atas tanpa komentar karena nas itu sendiri sudah cukup untuk memberikan apa yang kita maksudkan di sini, nas-nas itu boleh dikatakan dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan syi`ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba dan meragui kabar beritanya, dengan dalih sedikitnya berita atau lemahnya sumber-sumber yang menceritakan.</p>
<p><strong>Saif bin Umar At Tamimi</strong></p>
<p>Menurut orang Syi`ah modern Abdulah Bin Saba` hanyalah tokoh fiktif ciptaan Saif bin Umar Tamimi yang disebut pertama kali dalam bukunya berjudul al-Futuh al Kabir wa ar Riddah dani al-jamal wamasiri Ali wa Aisyah (170 H). Mereka juga mengatakan bahwa keberadaan Abdullah bin Saba` ini adalah fiktif, dikarenakan hanya bersumber dari satu orang yaitu Saif At-Tamimi, yang dinilai cacat (oleh ahli jarh wa ta`dil). Tertolaknya riwayat tentang Abdullah bin Saba` bukan hanya karena dalam jalur periwayatannya terdapat Saif At-Tamimi, melainkan bahwa Saif At-Tamimi merupakan sumber tunggal tentang cerita keberadaan Abdullah bin Saba` yang dengan predikat semacam itu maka sudah semestinya setiap kisah dari Saif At-Tamimi tidak bisa dipercaya, baik dalam wacana syari`at maupun tarikh.</p>
<p>Perkataan tentang Saif bin Umar At Tamimi tersebut seakan mereka sedang berusaha untuk menegakkan benang basah, dengan dalih Saif bin Umar At Tamimi haditsnya tidak bisa diterima, maka saya katakan:</p>
<p>Kalau seandainya yang anda cantumkan dari perkataan ulama jarh wa ta`dil tentang Saif bin Umar at Tamimi, bahwa lemah dan haditsnya tidak bisa diterima maka pembicaraan anda terfokus pada Saif bin Umar At Tamimi yang berkapasitas sebagai muhadits (ahli hadits dan yang meriwayatkan hadits). Tapi apa gerangan perkataan ulama tentang dia sebagai orang yang berkapasitas Ahli sejarah, marilah kita kembali ke buku-buku rijal (jarh wa ta`dil):</p>
<p>Berkata Adz Dzahabi : adalah ia sebagai ahli sejarah yang mengetahui (Mizan `Itidal : 2/255).</p>
<p>Berkata Ibnu Hajar : Lemah dalam Hadits, pakar (rujukan) dalam sejarah (Taqriibut Tahdziib no 2724).</p>
<p>Dangan ini habislah lemah dan ditinggalkan yang dinisbatkan ke diri Saif sebab perkataan itu ditujukan dalam segi Hadits bukan dalam segi sejarah. Inilah titik pembahasan kita.</p>
<p>Perlu diketahui, kita harus membedakan antara meriwayatkan hadits dengan yang meriwayatkan sejarah (kisah), maka atas yang pertama (riwayat hadits) hukum-hukum dibangun dan ditegakkan, dilaksanakannya hudud, maka ia berhubungan langsung dengan pokok syariat agama yaitu sunnah nabi, dan sinilah ulama selalu sangat hati-hati menentukan syarat-syarat orang yang akan diambil riwayatnya. Berbeda halnya dengan riwayat sejarah (kisah), walaupun tak kalah penting -apalagi dalam mengisahkan sejarah sahabat- akan tetapi tidak melahirkan hukum-hukum yang lazim dari ajaran agama, karena perkataan seseorang itu bisa dipakai dan dibuang kecuali perkataan penghuni kubur ini (yaitu Nabi) sebagaimana kata Imam Malik. Sebab semua perkataan nabi menjadi syariat bagi kita, semua yang shahih harus diambil dan tidak boleh ditinggalkan.</p>
<p>Sebagai argumen yang memperkuat perkataan kita bahwa Saif bin Umar at Tamimi ini adalah umdah, pokok, dan tempat bersandar dalam masalah sejarah, diantaranya:</p>
<p>1) Bahwa Imam Thobari menukil darinya kejadian-kejadian fitnah lebih banyak daripada yang lain, sampai-sampai ia berpatokkan kepadanya. (lihat At Thobari :4/344).</p>
<p>2) Kemudian Adz Dzahabi menjadikan Saif adalah salah satu sumber yang dipegangnya dalam kitabnya Tarikhul Islam. (lihat tarikhul Islam : 1/14,15).</p>
<p>3) Adapun Ibnu Katsir ia lebih cenderung untuk menshahihkan riwayat Saif dalam kronologi terbunuhnya Utsman, walaupun ia mencatumkan lebih dari satu riwayat dalam bab itu, perlu diketahui bahwa di bab itu ada riwayat Khalifah bin Khayat (salah seorang guru Bukhari) dan riwayatnya lebih kuat dari riwayat Saif. (lihat bidayah wan nihayah : 7/203).</p>
<p>Dari pandangan ahli sejarah yang terdahulu kita meninjau pendapat ahli sejarah masa kini tentang Saif bin Umar At Tamimi :</p>
<p>Muhibbuddin Al Kahthib berkata tentang Saif : …. Dan beliau adalah ahli sejarah yang paling mengetahui tetang sejarah Iraq</p>
<p>Dan darinya dari guru-gurunya ia berkata : dan ia orang yang lebih mengetahui dari kalangan ahli sejarah tetang kejadian di Iraq.</p>
<p>Berkata Ahmad Ratib `Armusy : dan jelas dari referensi buku-buku biografi, bahwa sesungguhnya Saif tidak termasuk perowi hadits yang diandalkan (dipercayai), akan tetapi pengarang-pengarang buku biografi itu sepakat bahwa dia adalah pakar / pemimpin dalam sejarah, bahwasanya dia itu adalah ahli sejarah yang mengetahui, dan sungguhn At Thobari telah bersandar kepadanya dalam kejadian-kejadian di masa permualaan Islam. (lihat buku Fitnah wa waqi`atul Jamal, hal : 27)</p>
<p>Adapun Dr. Ammar At Tholibi mengisyaratkan bahwa Saif adalah termasuk ahli sejarah yang terdahulu, karena ia meninggal pada zaman pemerintahan Ar Rasyid (193 H) setelah tahun 170 H. dan dari segi lain ia merupakan rijal Tirmizi (279 H) -orang-orang yang melaluinya Tirmizi meriwayatkan hadits-, dan ia (Tirmizi) belum menyanggah riwayatnya akan perowi lain. Dan tidak seorangpun dari kalangan ahli hadits dan ahli sejarah yang membantah khabarnya (riwayatnya) khususnya berhubungan dengan Ibnu Saba. (lihat buku : Araa` Khawarij : 77).</p>
<p>Kita tambahkan lagi di sini bahwa sesungguhnya orang-orang yang menghukum Saif itu lemah (dalam hadits), dan berbicara tentang dirinya, mereka meyebutkan Ibnu saba, dan mereka tidak mengingkarinya, seperti : Ibnu Hibban (Al Majruhiin 1/208 dan 2/253), Adz Dzahabi (Al Mughni fi Du`afaa` 1/399 dan di Mizanul `Itidal 2/426) dan Ibnu Hajar (Lisanul Mizan 3/290).</p>
<p>Dengan demikian dapatlah kita memastikan bahwa Abdullah bin Saba, bukanlah tokoh fiktif akan tetapi adalah tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia itu ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku syiah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengkaburkan dan mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba, sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang bolong yang terang benderang. Dan sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Khumaini celaka yang telah meninggal.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=127&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/abdullah-bin-saba-tokoh-fiktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://localhost/zonaislam/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempertimbangkan Antara Mashlahah dan Mafsadah</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/mempertimbangkan-antara-mashlahah-dan-mafsadah/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/mempertimbangkan-antara-mashlahah-dan-mafsadah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/mempertimbangkan-antara-mashlahah-dan-mafsadah/</guid>
		<description><![CDATA[Kaidah ketiga dalam mengamalkan sunnah adalah mempertimbangkan antara mashlahah (kemaslahatan) dan mafsadah (kerusakan). Terdapat kaidah syar’iyyah: “Apabila ada dua kerusakan saling berhadapan, maka dihindari yang paling besar bahayanya dengan melakukan yang paling ringan (bahayanya).” Dan juga kaidah yang semisalnya: “Menghindari/menolak kerusakan lebih diutamakan daripada usaha mendatangkan kemaslahatan.” Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan suatu kemaslahatan, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=126&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kaidah ketiga  dalam mengamalkan sunnah adalah mempertimbangkan antara mashlahah (kemaslahatan)  dan mafsadah (kerusakan).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Terdapat kaidah syar’iyyah: “Apabila ada dua kerusakan saling berhadapan, maka dihindari yang paling besar bahayanya dengan melakukan yang paling ringan (bahayanya).”</span></font><span id="more-126"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan juga kaidah  yang semisalnya: “Menghindari/menolak kerusakan lebih diutamakan daripada usaha  mendatangkan kemaslahatan.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan suatu kemaslahatan, maka secara umum, menolak kerusakan itu lebih didahulukan (kecuali jika kerusakan itu tidak dominan). Karena sesungguhnya perhatian pembuat syari’at terhadap perkara yang dilarang itu lebih keras daripada terhadap perkara yang diperintahkan. (Al-Asybaah wan Nazhaa`ir, karya As-Suyuuthiy hal.87)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan dalil-dalil  yang mendukung kaidah ini dalam syari’at banyak sekali.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Di antaranya adalah hadits yang telah disepakati oleh Al-Bukhariy dan Muslim -dengan lafazh Muslim- dari hadits ‘A`isyah ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang Al-Jadr (batu), apakah itu termasuk rumah (Ka’bah)?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam (bangunan) Ka’bah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kaummu tidak menyempurnakan bangunannya karena minimnya pendanaan.” Aku berkata: “Lalu kenapa keadaan pintunya ditinggikan?” Beliau menjawab: “Kaummu melakukan itu agar mereka bisa memasukkan orang yang mereka kehendaki dan mencegah orang yang mereka kehendaki; dan kalau bukan karena kaummu masih dekat dengan masa jahiliyyah dan aku khawatir hati-hati mereka akan mengingkarinya: sungguh aku berpendapat untuk memasukkan Al-Jadr (batu pondasi) -yang dibangun oleh Nabi Ibrahim- ke dalam bangunan rumah (Ka’bah). Dan aku akan menempelkan pintunya dengan bumi.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan Al-Bukhariy telah membuat satu judul bab atas hadits ‘A`isyah ini, dia berkata: “Bab: Meninggalkan Sebagian Usaha Dan Upaya Karena Kekhawatiran Masih Rendahnya Pemahaman Sebagian Manusia Tentangnya Lalu Mereka Terjerumus Ke Dalam Perkara Yang Lebih Dahsyat Darinya.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath: “Diambil faidah dari hadits ini (yaitu): meninggalkan kemaslahatan demi keamanan dari terjerumus ke dalam kerusakan.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kemaslahatan  Melunakkan Hati Manusia</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berkata Syaikhul  Islam ketika menerangkan sebagian perkara mustahab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Merupakan perkara yang disukai bagi orang yang mempunyai tujuan untuk mempertautkan (menyatukan) serta melunakkan hati-hati (muslimin) dengan meninggalkan perkara-perkara mustahab ini, karena kemaslahatan menyatukan dan melunakkan (hati-hati muslimin) dalam agama itu lebih besar daripada kemaslahatan mengerjakan perkara semisal itu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sebagaimana Nabi meninggalkan/menggagalkan rencana perombakan bangunan Ka’bah guna menjaga hati-hati (muslimin). Demikian juga pengingkaran Ibnu Mas’ud terhadap ‘Utsman karena menyempurnakan shalat di dalam safar, kemudian ia tetap shalat di belakang ‘Utsman dengan sempurna. Dan mengatakan: “Perselisihan itu adalah jelek.” (Majmu’ Fatawa 22/407)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan beliau berkata di tempat yang lain: “Mengerjakan suatu amalan boleh jadi termasuk perkara mustahab dan meninggalkannya pun terkadang demikian dengan memperhatikan kerajihan (yang paling besar/kuat) dari kemaslahatan mengerjakannya dan meninggalkannya, sesuai dengan dalil-dalil syar’iyyah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kadang-kadang seorang muslim dibolehkan meninggalkan amalan yang mustahab, jika dalam mengerjakannya akan didapati kerusakan yang rajih (kuat) atas kemaslahatannya. Sebagaimana Nabi telah meninggalkan membangun rumah di atas pondasi Nabi Ibrahim…, maka Nabi meninggalkan perkara tersebut yang menurut beliau hal itu lebih afdhal di antara dua perkara, karena perkara yang menghalanginya yang lebih rajih, yaitu: keislaman bani Quraisy yang masih dini, yang apabila perkara ini dilaksanakan malah akan membuat mereka lari, maka dengan ini kerusakan yang akan ditimbulkan lebih rajih atas kemaslahatan yang hendak dicapai.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Antara yang  Afdhal dan Mafdhul</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Oleh karena itu para imam-seperti Al-Imam Ahmad dan yang lainnya- menyukai agar seorang imam meninggalkan apa yang menurutnya afdhal dalam rangka menjaga hati para makmum, misalnya: baginya lebih afdhal memisahkan dalam shalat witir dengan mengucapkan salam pada raka’at genap kemudian shalat satu raka’at witir, sementara ia mengimami suatu kaum yang hanya mengetahui pelaksanaan shalat witir dengan cara menyambungnya (tidak memisahkannya). Maka apabila ia tidak dapat melangkah kepada yang lebih afdhal dalam pelaksanaan shalat witir tersebut, jadilah kemaslahatan yang dihasilkan dengan mencocoki mereka dengan menyambung shalat witir tersebut menjadi lebih rajih daripada kemaslahatan memisahkan shalat witir tersebut bersamaan adanya kebencian mereka untuk shalat di belakangnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikian juga bagi orang yang berpendapat merendahkan suara ketika membaca basmalah dalam shalat lebih afdhal (utama) daripada mengeraskannya, sedangkan makmum tidak sependapat dengannya. Maka melakukan tindakan yang menurutnya mafdhul (tidak lebih utama) demi kemaslahatan mencocoki dan menjaga hati para makmum merupakan hal yang rajih atas kemaslahatan mendapatkan keutamaan tersebut. Tindakan ini diperbolehkan dan baik.” (Majmu’ Fatawa 24/195-196)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kaidah Ini Tidak  Menafikan tentang Memperhatikan Sunnah dan Mengamalkannya</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Semua contoh di atas yang berdasarkan kaidah tersebut tidaklah menafikan prinsip yang telah dijelaskan, yaitu: selalu memperhatikan sunnah dan berupaya untuk mengamalkannya serta bersemangat atasnya. Karena kaidah itu hanyalah dipakai untuk persoalan insidental, bukan untuk membunuh dan mengubur sunnah demi kaidah tersebut.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka apabila ada orang yang memandang, bahwa sunnah merupakan penghalang dari penghalang-penghalang di jalan yang lurus -menganggap sunnah itu mendatangkan perselisihan dan pertentangan-, sesungguhnya kita bantah ucapan tersebut: bahwa meninggalkan sunnah secara total akan mendatangkan kerusakan yang besar, dengan perbuatan itu akan hilang syari’at Allah ini sedikit demi sedikit.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sungguh telah berkata ‘Abdullah bin Mas’ud: “Akan datang suatu kaum yang meninggalkan sunnah seperti ini -yakni persendian jari-jemari- dan jika kalian membiarkan mereka, maka mereka akan datang dengan membawa malapetaka yang lebih besar. Sesungguhnya tidak ada seorang Ahli Kitab pun, kecuali merekalah yang pertama kali meninggalkan sunnah dan yang paling akhir mereka tinggalkan adalah shalat. Dan sendainya mereka tidak mau menghidupkannya, pastilah mereka akan meninggalkan shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa`iy dalam Syarh I’tiqaad Ahlil Hadiits 1/91)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pemahaman yang  Benar untuk Kaidah Ini</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dengan demikian, maka pemahaman yang benar untuk kaidah ini adalah: Apabila pengamalan suatu sunnah dari sunnah-sunnah yang ada akan diikuti oleh suatu mafsadah yang lebih besar daripada kemaslahatannya, maka pengamalan sunnah tersebut ditangguhkan pada situasi dan kondisi yang demikian, dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Wajib memberi  nasihat dan mengingatkan tentang keagungan dan kebesaran kududukan  sunnah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Menasihati  agar tidak meninggalkan sunnah selama-lamanya/terus-menerus secara  berkesinambungan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Apabila telah diketahui keadaan orang yang senang mengacau atas ditegakkannya sunnah, bahwasanya semata-mata penolakannya itu didasari oleh kebencian terhadap sunnah, mungkin karena kefanatikan kepada suatu madzhab, atau karena mengikuti manhaj tertentu, maka sesungguhnya sunnah itu tetap ditegakkan -walaupun membangkitkan kemarahan orang tersebut dan kemarahan seribu orang seperti dia- karena telah tsabit (tetap) dari Nabi bahwasanya beliau bersabda”…barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih dari shahabat Anas bin Malik)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sedangkan maslahat besar yang kita inginkan hanyalah kasih sayang di antara ahlus sunnah dan mencegah terjadinya kebencian dan permusuhan di antara mereka. Maka ketika seseorang atau suatu jama’ah membenci sunnah, maka gugurlah kasih sayang terhadap mereka dan wajib menjauhi serta membenci mereka karena Allah Ta’ala.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berbeda halnya dengan orang yang bodoh, seperti kebanyakan orang awam, mereka meninggalkan sunnah dengan bentuk penolakan karena kejahilannya terhadap orang yang menegakkan sunnah tersebut, atau terjerumus ke dalam sesuatu dari lafazh-lafazh yang dilarang. Maka dituntut dalam hal ini, bagi orang yang dipercaya dari kalangan ahlul ‘ilmi (’ulama), untuk mengajari serta membantu orang tersebut dengan cara penuh kelemah-lembutan. Setelah itu, jika dia masih terus berada di atas kejahilannya, maka gabungkanlah dia bersama teman- temannya yang sebelumnya dari kalangan ahlul bid’ah. Wallaahul Musta’aan. Wallaahu A’lamu bish Shawaab.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Diambil dari  kitab Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/126/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/126/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=126&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/mempertimbangkan-antara-mashlahah-dan-mafsadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menepis Pemahaman Keliru dalam Mengingkari Kemungkaran</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menepis-pemahaman-keliru-dalam-mengingkari-kemungkaran/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menepis-pemahaman-keliru-dalam-mengingkari-kemungkaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam - Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menepis-pemahaman-keliru-dalam-mengingkari-kemungkaran/</guid>
		<description><![CDATA[Amar ma’ruf nahi munkar adalah poros penting adalam agama, walaupun hal itu sering disalahgunakan. Terkadang untuk kepentingan politik, hawa nafsu dan lain-lain. Banyak para pemuda yang memiliki semangat untuk memperjuangkan Islam salah langkah dalam hal ini. Dengan hanya berbekal sedikit ilmu dan besar semangat, mereka menyeret umat Islam yang tidak berdosa kepada pertumpahan darah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=125&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amar ma’ruf nahi munkar adalah poros penting adalam agama, walaupun hal itu sering disalahgunakan. Terkadang untuk kepentingan politik, hawa nafsu dan lain-lain. Banyak para pemuda yang memiliki semangat untuk memperjuangkan Islam salah langkah dalam hal ini. Dengan hanya berbekal sedikit ilmu dan besar semangat, mereka menyeret umat Islam yang tidak berdosa kepada pertumpahan darah yang sia-sia. </span></font><span></span><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mereka tidak mengerti adab-adab dan tingkat-tingkat beramar ma’ruf nahi munkar sehingga mereka justru mengaburkan makna amar ma’ruf nahi munkar.</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-125"></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering digunakan dan salah ditafsirkan  adalah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dari Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu ‘anhu, ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian melihat sebuah kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia belum sanggup, maka hendaklah ia menggunakan lisannya. Jika ia masih belum sanggup, maka hendaklah ia menggunakan hatinya. Itu adalah selemah-lemah keimanan. (HR Muslim dalam Shahihnya no. 78-79, Turmudzi dalam Sunannya no. 2172, An-Nasa`i dalam Sunannya, no. 5023-5024, Ahmad dalam Musnadnya 3/10,20,49, Abu Dawud dalam Sunannya no. 1140, Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1275, dan Abu Ya’la Al Mushuli dalam Musnadnya no. 1005 tahqiq Irsyadul Haq Al-Atsari. (An-Nadliyah fi takhrij ‘arba’in An-Nawawiyah))</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syarah  Hadits</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, mengandung kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar[1] yang merupakan poros terbesar dalam agama ini. Allah mengutus para nabi dengan memikul kewajiban itu. Kalau hamparan amar ma’ruf nahi munkar digulung, akan hancurlah agama ini. Timbullah kerusakan dan hancurlah negeri-negeri.[2]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berkenaan dengan asbabul wurud hadits ini dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Marwan bin Al-Hakam bin Abil ‘Ash, seorang khalifah Bani Umayah di Syam, mendahulukan khutbah sebelum shalat pada hari Ied. Ketika itu seseorang berdiri seraya berkata: “Shalat dulu, kemudian khutbah.” Maka Abu Sa’id mengomentari sikap orang tadi dengan ucapannya: “Orang ini telah menunaikan kewajibannya, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda… (beliau menyebutkan hadits di atas)…” dan seterusnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang melakukannya adalah Abu Sa’id sendiri. Beliau bercerita: “Kaum muslimin terus dalam keadaan yang demikian (shalat lalu khutbah), hingga aku keluar (ke lapangan) bersama Marwan yang ketika itu menjabat amir kota Madinah di hari Idul Fithri atau Adlha. Ketika kami sampai di lapangan, ternyata di sana ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash-Shalt. Kemudian ia bermaksud naik ke mimbar, padahal belum shalat. Maka kutarik bajunya, tetapi dia membalas menarik pula. Ketika sudah berada di atas, dia berkhutbah sebelum shalat. Aku katakan kepadanya: “Demi Allah, engkau telah merubah.” Marwan mengatakan lagi: “Hai Abu Sa’id, telah hilang apa yang engkau ketahui.” Aku katakan lagi: “Apa yang aku ketahui lebih baik daripada apa yang tidak kuketahui.” Marwan menambahkan: “Demi Allah, sesungguhnya orang-orang ini tidak mau duduk mendengarkan kami setelah shalat maka aku berkhutbah sebelum shalat.”[3]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Imam An-Nawawi mengatakan: “Dimungkinkan hal ini adalah dua peristiwa yang salah satunya adalah kisah Abu Sa’id, sedang yang lainnya adalah kisah orang lain di hadapan Abu Sa’id.[4]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang hukum amar ma’ruf nahi munkar dalam Majmu’ Fatawa 28/126: “Tidak wajib atas setiap person tertentu, melainkan fardlu kifayah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Qur`an.” (Lihat Dlawabith Amar Ma’ruf, Ali Hasan hal. 23).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Adab-adab Amar  Ma’ruf Nahi Munkar</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 123-129 secara ringkas mengatakan bahwa rukun-rukun amar ma’ruf nahi munkar ada empat:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rukun pertama, pelaku amar ma’ruf seorang yang mukallaf[5], muslim dan sanggup. Walaupun demikian seorang anak usia tamyiz[6] juga dapat beramar ma’ruf nahi munkar dan akan mendapatkan pahala karenanya walaupun tidak wajib atasnya. Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa syarat seseorang beramar ma’ruf nahi munkar harus memiliki sifat ‘adalah (meninggalkan maksiat) dan mengatakan bahwa orang fasik tidak boleh beramar ma’ruf berdasarkan ayat:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">أَتَأْمُرُونَ  النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ…</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apakah kalian  menyeru manusia berbuat kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian. (Al-  Baqarah: 44).</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tapi pernyataan  ini tidak bisa dijadikan hujjah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ada pula yang mensyaratkan si pelaku amar ma’ruf nahi munkar harus mendapatkan ijin dari imam atau penguasa sedangkan rakyat tidak boleh melakukannya. Pendapat ini keliru sebab ayat-ayat dan hadits-hadits secara umum menunjukkan bahwa setiap orang yang melihat kemungkaran, kemudian mendiamkannya berarti dia bermaksiat. Maka pengkhususan harus dengan izin sang imam akan mempersulit.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Yang mengherankan pula, Rafidlah menambah dengan tidak boleh amar ma’ruf sebelum imam yang ma’ruf keluar. Bila mereka datang kepada hakim untuk meminta hak-hak mereka, maka katakan kepada mereka: Permintaan tolong dan pengembalian hak-hak kalian berarti amar ma’ruf nahi munkar padahal masanya belum datang karena imam belum keluar.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Amar ma’ruf nahi  munkar memiliki lima tingkatan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Mengenalkan  kebenaran.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Nasehat dengan  ucapan yang lembut.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Cercaan dan makian. Yang kita maksud di sini bukan cercaan yang kotor melainkan kita katakan padanya seperti: Wahai jahil! Dungu! Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Dan lain- lain.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Mencegah  dengan keras, seperti menghancurkan alat-alat musik dan menumpahkan  khamr.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">5. Ancaman dan hukuman dengan pukulan, atau langsung dipukul sampai ia berhenti dari perbuatannya. Tingkatan yang kelima ini membutuhkan imam, berbeda dengan yang sebelumnya, sebab dikhawatirkan terseret kepada fitnah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jika ada yang bertanya apakah boleh seorang anak beramar ma’ruf kepada ayahnya, hamba kepada tuannya, istri kepada suaminya, atau rakyat kepada penguasa? Jawabnya: Pada asalnya hal itu boleh bagi semuanya dan sudah kita bawakan lima tingkatan tadi. Maka bagi anak tingkatannya adalah dengan mengenalkan kebenaran kemudian nasehat dengan lembut. Adapun tingkatan yang ketiga dan seterusnya selayaknya dilakukan oleh tuan kepada budak atau suami terhadap istri. Adapun rakyat kepada penguasa perkaranya lebih keras dari anak, tidak ada kewajiban bagi rakyat kecuali dengan pengenalan dan nasehat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Disyaratkan juga si pelaku itu sanggup untuk mengingkari. Adapun yang lemah tidak ada kewajiban baginya kecuali mengingkari dengan hati. Tidak gugur kewajiban ini bagi yang lemah tubuhnya melainkan karena dikhawatirkannya dia terkena gangguan. Itulah makna kelemahan di sini.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Begitu pula bila  dia tahu bahwa pengingkarannya diduga tidak bermanfaat, maka terbagi dalam 4  keadaan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Bila dia tahu kalau kemungkaran itu bisa lenyap dengan ucapan atau perbuatannya, tanpa ia terkena bahaya, maka wajib baginya untuk melakukannya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Bila dia tahu  bahwa ucapannya tidak bermanfaat dan apabila dia berbicara akan dipukul, maka  gugurlah kewajiban atasnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Bila dia tahu bahwa ucapannya tidak bermanfaat, tetapi dia tidak khawatir terkena bahaya, maka tidak wajib baginya karena tidak bermanfaat. Akan tetapi hal itu disukai untuk menunjukkan syiar-syiar Islam dan untuk mengingatkan manusia kepada agama.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Bila dia tahu bahwa dia akan terkena bahaya, tetapi kemungkaran tersebut akan hilang dengan sikapnya seperti menghancurkan alat-alat musik atau menumpahkan khamr padahal dia tahu bahwa dia akan dipukul setelah itu, maka kewajiban gugur darinya dan hukumnya tinggal mustahab, berdasarkan sabda Nabi:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">أَفْضَلُ  الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jihad yang paling utama adalah ucapan yang benar yang disampaikan di hadapan penguasa yang jahat. (HR. Abu Said, Abu Umamah, Thariq bin Syihab, Jabir bin Abdullah dan Suhri secara mursal, lebih rinci lihat Ash-Shahihah no. 491)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tidak terjadi perselisihan tentang bolehnya seorang muslim menyerang barisan orang kafir, walau akhirnya dia harus mati. Tapi bila dia tahu dia tidak bisa mengalahkan orang kafir seperti orang buta mencampakkan dirinya ke tengah-tengah musuh, maka haram hukumnya. Begitu pula bila dia melihat seorang fasiq yang minum khamr dan di tangannya ada pedang dan dia tahu kalau dia melarang minum khamr, dia akan dibunuh, maka tidak boleh baginya untuk melakukannya. Karena hal ini tidak memberi pengaruh yang bisa memberi manfaat. Hanya disukai baginya untuk mengingkari bila dia sanggup untuk menghapuskan kemungkaran tersebut. Dan tumbuh manfaat dengan sikapnya itu seperti orang yang menyerang barisan orang-orang kafir dan lain-lain.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jika dia tahu bila teman-temannya juga akan terkena bahaya, maka tidak boleh baginya untuk melakukannya karena dia tidak kuat untuk menolak kemungkaran itu kecuali dengan menyeret kemungkaran yang lain. Hal itu tidak dianggap mampu sedikitpun. Dan yang dimaksudkan dengan tahu di sini adalah perkiraan kuat. Siapa yang mengira dengan kuat bahwa dia akan terkena bahaya maka tidak wajib baginya untuk mengingkari. Jika kuat perkiraannya bahwa dia tidak akan terkena bahaya, maka wajib baginya melakukannya. Bukan pengecut atau pemberani yang berlebihan, tetapi dinilai dengan tabiat yang wajar. Yang dimaksud dengan bahaya di sini adalah seperti pemukulan atau pembunuhan. Begitu juga perampasan harta atau diumumkan di negeri itu sebagai orang jelek. Adapun penghinaan dan cercaan maka tidak menjadi alasan untuk diam sebab orang yang beramar ma’ruf biasanya akan menemui hal itu. (Masih dalam Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rukun kedua, “kemungkaran itu ada ketika itu dengan jelas”. Makna mungkar adalah dilarang dilakukan menurut syariat[7]. Mungkar lebih umum daripada maksiat. Bila seseorang melihat anak kecil atau orang gila meminum khamr, maka wajib baginya untuk menumpahkan dan melarangnya. Begitu juga bila lelaki gila berzina dengan wanita gila atau dengan hewan maka wajib baginya untuk mencegah.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kata “ada ketika itu”, berarti bukan terhadap orang yang telah selesai meminum khamr atau sejenisnya. Dan juga bukan terhadap apa yang akan didapati dalam keadaan lain, seperti orang yang mengetahui melalui tanda-tanda bahwa ada yang ingin “minum” di malam hari. Tidak ada amar ma’ruf terhadap orang tersebut kecuali dengan nasehat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kata “dengan jelas”, berarti orang yang melakukan maksiat tidak dengan sembunyi-sembunyi di rumahnya dan mengunci pintunya. Orang yang bermaksiat dengan sembunyi-sembunyi tidak boleh dimata-matai, kecuali sampai diketahui oleh orang yang di luar rumah seperti suara alat- alat musik. Bagi orang yang mendengarkannya, hendaknya masuk dan menghancurkannya. Atau jika keluar bau khamr, menurut pendapat yang benar boleh diingkari.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Juga disyariatkan dalam mengingkari kemungkaran harus benar-benar diketahui bahwa hal itu mungkar, bukan termasuk perkara ijtihad. Setiap yang masih dalam hal ijtihad, tidak dikenai hal ini.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rukun ketiga, syarat orang yang diingkari. Cukup dengan sifatnya sebagai manusia. Tidak disyaratkan orang tersebut harus mukallaf dulu, sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi, maka seperti terhadap anak-anak dan orang-orang gila tetap diingkari.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Rukun keempat,  tentang amar ma’ruf itu sendiri. Hal ini memiliki beberapa tingkat dan  adab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Si pelaku amar ma’ruf memang mengetahuinya, tidak boleh baginya untuk mencari pendengaran dari rumah yang lain untuk mendengar suara musik atau sengaja mengendus bau khamr. Atau menyentuh sesuatu yang telah ditutup dengan pakaian agar ia tahu apa yang ada di dalamnya. Atau mencari-cari kabar kepada para tetangganya agar diberi tahu apa yang terjadi. Tetapi apabila ia diberi tahu oleh dua orang yang adil bahwa si A meminum khamr, maka ketika itu dia boleh masuk dan mengingkari.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Mengenalkan kebenara karena ada orang yang dengan jahil melakukan sesuatu karena menganggap perbuatan itu tidak mungkar dan bila dia tahu dia akan meninggalkannya. Maka wajib memberitahukannya dengan lembut. Katakan kepadanya: “Memang manusia ketika lahir tidak langsung menjadi orang yang tahu. Kita tidak mengetahui tentang masalah agama sampai para ulama mengajari kita.” Karena mungkin juga temanmu itu jauh dari para ulama. Bersikap lembutlah kepadanya agar dia mengerti tanpa menyakitinya. Barangsiapa diam ketika melihat kemungkaran dengan alasan tidak mau menyakiti sesama muslim padahal dia harus berbicara, maka hal ini sama dengan mencuci darah dengan air seni.[8]</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Melarang dengan nasehat dan menyuruhnya takut kepada Allah dengan menyampaikan kabar- kabar yang berisi ancaman. Ceritakan kepadanya kisah-kisah para salaf. Lakukan hal itu dengan rasa kasih sayang dan lembut tanpa perlu mencaci dan emosi. Di sini banyak terjadi kekeliruan yang harus dijaga, yaitu seseorang yang tahu ketika menasehati menganggap dirinya paling mulia karena dia tahu kemudian merendahkan lawan bicara karena tidak tahu. Hal itu sama dengan seseorang yang ingin menyelamatkan orang lain dengan membakar dirinya ke dalam api. Ini adalah kebodohan yang sangat, kehinaan yang hebat dan tipuan setan. Maka dibutuhkan barometer, agar seyogyanya pelaku amar ma’ruf tadi menguji dirinya. Yaitu dengan mengingkari kemungkaran terhadap dirinya sendiri. Jika ternyata dia mengikuti hawa nafsunya, bertujuan agar terkenal melalui amar ma’rufnya tadi, maka hendaklah ia takut kepada Allah dan mengintrospeksi dirinya dahulu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dikisahkan, ada yang bertanya kepada Daud At-Tha’i: “Bagaimana pendapat anda terhadap seseorang yang menemui para umara, kemudian menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Daud menjawab: “Aku khawatir dia akan dicambuk.” Penanya: “Dia sanggup untuk menghadapinya.” Daud: “Aku khawatir dia akan terkena pedang.” Penanya: “Ia sanggup.” Daud: “Aku takut dia terkena penyakit yang berbahaya, yaitu ‘ujub (bangga terhadap dirinya sendiri).”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Cercaan dan makian dengan ucapan yang keras dan menusuk. Cara ini dipilih bila tidak bisa dicegah dengan lembut dan menunjukkan sikap mengejek peringatan dan nasehat serta terus melakukan perbuatan tersebut. Yang kita maksudkan di sini bukan dicerca dengan ucapan yang mengandung kekejian dan dusta. Tapi katakan kepadanya: “Hai fasiq, dungu, bodoh, apakah kamu tidak takut kepada Allah?” Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">أُفٍّ لَكُمْ  وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ. (الأنبياء:  ٦۷)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ah, celaka kalian  dan apa yang kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak berakal? (Al-  Anbiya`: 67)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">5. Merubah dengan tangan, seperti menghancurkan alat-alat musik, menumpahkan khamr dan mengusir penghuni rumah curian dari rumah tersebut. Tingkatan ini memiliki 2 adab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">a. Jangan langsung mengadakan perubahan selama orang yang diingkari sanggup untuk memikul hal tersebut (yaitu) bila dia mau pergi dari tempat yang dirampasnya, tidak perlu sampai menyeretnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">b. Menghancurkan alat musik itu sampai benar-benar tidak bisa dipergunakan lagi. Jangan lebih dari itu. Dan berhati-hati ketika menumpahkan khamr agar jangan sampai memecah bejana- bejana lain jika mungkin. Jika dia tidak sanggup untuk itu kecuali harus dengan melempar bejana itu dengan batu atau yang sejenis, itu boleh baginya. Dengan itu akan hilang harga bejana itu. Kalau dia menutup-nutupi khamr dengan tangannya dan hanya bisa dijalankan dengan jalan tangan si pemilik juga dipukul, maka tidak mengapa. Bila khamr berada dalam bejana yang mulutnya kecil, yang bila ditumpahkan akan memakan waktu yang lama dan dia akan ditemui pemiliknya kemudian dicegah, maka hendaklah dia memecahkannya. Ini dianggap udzur.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jika ada  pertanyaan: Apakah boleh memecahkannya dengan paksa dan menarik penghuni untuk  meninggalkan rumah dengan paksa?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jawabnya: Itu  boleh untuk penguasa. Tidak untuk rakyat karena tidak adanya segi ijtihad dalam  hal itu.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">6. Dengan ancaman, seperti: “Tinggalkan perbuatan ini, kalau tidak saya akan buat kamu jadi begini dan begitu!” Jika perlu untuk dipukul tidak mengapa.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Adab dalam hal ini adalah jangan mengancam dengan ancaman yang tidak boleh dilakukan seperti: “Akan kuhancurkan rumahmu dan kuculik istrimu.” Jika dia mengucapkan dengan sungguh-sungguh, maka haram hukumnya. Jika tidak, berarti dusta.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">7. Langsung memukul dan menendang dan lain-lain selain senjata. Itu boleh bagi perorangan dengan syarat terpaksa dan seperlunya. Jika kemungkaran itu sudah lenyap selayaknya dihentikan.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">8. Dia tidak sanggup sendiri dan membutuhkan teman dengan mengangkat senjata, karena kadang-kadang si pelaku juga memiliki teman-teman yang menjurus kepada peperangan. Yang benar dalam hal ini butuh kepada ijin Imam karena menjurus kepada fitnah dan kerusakan. Dan ada juga yang menyatakan tidak perlu ijin. (Selesai ucapan Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tentang Sifat si  Pelaku Amar Ma’ruf</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Di atas sudah  disebutkan adab-adab pelaku amar ma’ruf dengan rinci. Dan kesimpulannya ada tiga  sifat:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Ilmu tentang  amar ma’ruf dan batas-batasnya agar berada dalam batas  syariat[9].</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Wara’ karena  dia kadang-kadang tahu tentang sesuatu tetapi tidak mengamalkannya karena suatu  hal.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Baik akhlak. Ini dasar agar bisa menahan akibat. Karena kemarahan bila bergejolak tidak bisa ditahan dengan semata-mata ilmu dan wara’ dalam memadamkannya selama tidak ada baik akhlak secara tabiat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sebagian para salaf berkata: “Jangan seseorang menyuruh kepada yang ma’ruf kecuali dengan lembut dan juga ketika melarang. Kasih sayang ketika menyuruh dan melarang. Paham dalam menyuruh dan melarang.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bersikap lembut  dalam beramar ma’ruf, itu jelas. Berdasarkan ayat:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">فَقُوْلاَ لَهُ  قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى. (طه:  ٤٤)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Katakan kepadanya  (Fir’aun) perkataan yang lembut. (Thaha: 44)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pernah seorang pemuda lewat dalam keadaan menyeret pakaiannya (isbal), maka teman-teman Shilah bin Usyaim mencercanya dengan keras. Maka Shilah berkata: “Biarkanlah aku menyelesaikannya.” Kemudian Shilah berkata kepada pemuda itu: “Wahai anak saudaraku, aku ada perlu sedikit denganmu.” Pemuda itu berkata: “Apa itu?” Shilah: “Aku ingin agar engkau meninggikan sarungmu.” Pemuda: “Baiklah kalau begitu.” Maka pemuda itu pun mengangkat sarungnya. Kemudian Shilah beralih kepada rekan-rekannya dan berkata: “Bukankah ini yang kalian maukan. Jika kalian mencacinya dan menyakiti dia akan membalas kalian.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Beberapa Tujuan  dalam Beramar Ma’ruf</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ibnu Rajab dalam Iqadhul Himam hal. 465 berkata: “Ketahuilah bahwa beramar ma’ruf dan nahi munkar kadang-kadang karena mengharap pahala, dosa jika ditinggalkan, kemarahan Allah karena larangan-Nya dilanggar, menasehati kaum muslimin dan kasih sayang kepada mereka, mengharap mereka terlepas dari dosa-dosa yang akibatnya mereka akan terkena hukuman Allah di dunia dan akhirat. Dan juga karena memuliakan dan mencintai Allah, karena Dia yang paling berhak untuk ditaati, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri. Dan menebus dengan jiwa dan harta terhadap kehormatan Allah yang dilanggar, sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian salaf: ‘Aku ingin agar semua manusia taat kepada Allah walau dagingku harus digunting.’” (Iqadhul Himam)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalam amar ma’ruf nahi munkar ada sekelompok orang yang meninggalkannya sama sekali. Ada yang tidak mengetahui patokan dan batas-batasnya hingga bertindak melampaui batas. (Dlawabith, Ali Hasan hal. 18)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Beberapa faedah  yang dapat dipetik dari pembahasan ini adalah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1. Amar ma’ruf  nahi munkar termasuk bagian dari iman. Oleh sebab itu Imam Muslim memasukkan  dalam kitabul iman.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2. Siapa yang sanggup untuk melaksanakan bagian-bagian itu, lebih baik dari yang meninggalkannya karena lemah, walau diberi udzur.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">3. Siapa yang khawatir terhadap dirinya akan dipukul, dibunuh atau dirampas hartanya, maka gugur kewajiban darinya dengan tangan dan lisan, tapi wajib mengingkari dengan hati. Barangsiapa yang hatinya tidak mengingkari yang mungkar berarti telah lenyap keimanan darinya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">4. Sangat  perlunya kita melihat contoh dari para salaf dalam memahami hadits ini agar  tidak salah paham.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">5. Harus berilmu hingga tahu mana yang harus disikapi dengan keras dan lembut agar jangan terbalik. Hal ini menunjukkan pentingnya ilmu dan bimbingan para ulama.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu a’lam  bish shawab.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maraji’:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Shahih Muslim,  Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi (206-261 H), Dahlan, tanpa  tahun.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sunan Turmudzi,  Abu Isa Muhammad bin Isa (209-279 H), Darul Kutub ‘Ilmiyah, tahqiq Ahmad Syakir,  tanpa tahun.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sunan Nasa`i,  Ahmad bin Syu’aib (215-303 H), Darul Ma’rifah, cet. II, 1412 H-1992  M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Musnad Ahmad, Ahmad bin Hambal (164-241 H), Darul Kutub Ilmiyah, cet. I, 1413 H-1993 M. Adapun naskah keduanya tanpa tahun dan tidak jelas penerbitnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sunan Abu Daud,  Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani (202-275 H), Darul Fikr, Tahqiq Shidqi M.  Jamil. 1414 H – 1994 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid bin Majah (207-273/275 H), Darul Rayyan Lit Turats, tahqiq M. Fuad Abdul Baqi, tanpa tahun.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Musnad Abu Ya’la,  Ahmad bin Ali At-Tamimi (210-307 H), Darul Qiblat, tahqiq Irsyadul Haq Al-  Atsari, cet. I, 1408 H – 1988 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Qawa’id wal  Fawa’id, Nadhim Sulthan, Darul Hijrah, cet. II, 1410 H.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Mukhtashar  Minhajul Qashidin, Imam Ibnu Qudamah (wafat 742 H), Al-Maktab Al-Islami, cet.  VII, tahqiq Zuhair Syawais.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Fathul Bari, Imam Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani (773-852 H), Darud Diyan Lit Turats, Isyraf Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dan Qushay Muhibbuddin Al- Khatib, cet. II.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Syarh An-Nawawi,  Yahya bin Syaraf An-Nawawi (631-676 H), I’dad Ali Abdul Hamid, Darul Khair, cet.  II, 1414 H – 1994 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H), Jam’u wat Tartib Abdurrahman bin Muhammad, Isyraf Ar-Riyasatul Ammah Li Syu’inil Haramain, tanpa tahun.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dhawabith, Ali  Hasan, Al-Ashalah, cet. I, 1414 H – 1994 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Silsilah  Al-Ahadits Ash-Shahihah, M. Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktabah Al-Ma’arif, 1415  H – 1995 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Iqadhul Himam,  Salim Al-Hilali, Darul Ibnul Jauzi, 1414 H – 1993 M.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Sumber: Majalah  Salafy edisi XXV/1418 H/1998 M, Rubrik Nasehati</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[1] Qawaid wa  Fawaid, Nadhim Sulthan hal. 285</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[2] Mukhtashar  Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah hal. 131</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[3] Fathul Bari  3/102</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[4] Syarah  An-Nawawi 1/217</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[5] Mukallaf  adalah seorang dewasa yang sudah dikenai beban syari’at</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[6] Tamyiz adalah  seorang anak yang sudah mulai dapat membedakan dan berpikir  benar</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[7] Makna ini sebagai bantahan terhadap pernyataan Syafi’i Ma’arif dalam majalah Suara Muhammadiyah no. 01/02 th ke 83 hal. 20, sebagai berikut: “Definisi ma’ruf adalah sesuatu yang dikenal baik dan diterima oleh akal maupun masyarakat. Sedangkan munkar adalah sesuatu yang ditolak oleh akal sehat.”</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[8] Yakni maunya  membersihkan tetapi dengan sesuatu yang lebih jelek dan lebih  najis.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">[9] Hal ini sangat penting, karena jika tanpa ilmu niatnya yang baik tidak akan tercapai karena salah dalam penerapan. Yang seharusnya disikapi dengan keras, dia sikapi dengan lembut atau sebaliknya. (pen)</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=125&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menepis-pemahaman-keliru-dalam-mengingkari-kemungkaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/</guid>
		<description><![CDATA[Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya: وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ “Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=124&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَلاَ تُصَعِّرْ  خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ  كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><span></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)</span></font></p>
<p align="left"><span id="more-124"></span></p>
<p><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pada ayat yang  lain Allah k melarang pula:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَلاَ تَمْشِ فِي  اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ  طُوْلاً</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kehinaan. Inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">‘Amr bin Syu’aib  meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَلِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Bahkan seorang yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah k. Demikian yang kita dapati dari Rasulullah n, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar c:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">مَنْ تَعَظَّمَ  فِي نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ  عَلَيْهِ غَضْبَانُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah k dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy- Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kesombongan (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k. Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c, “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau n menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau n menjawab:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">سَفَهُ الْحَقِّ  وَغَمْطُ النَّاسِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tak sedikit pun Rasulullah n membuka peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan beliau n senantiasa memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">إِنَّ اللهَ  أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ  يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun menyombongkan diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Berlawanan dengan orang yang sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi Allah k, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَمَا تَوَاضَعَ  أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan tidaklah  seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.”  (HR. Muslim no. 2588)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tawadhu’ karena Allah k ada dua makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum- hukumnya. Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah k karena Allah k, bukan karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada mereka, namun semata-mata hanya karena Allah k. Kedua makna ini benar.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Apabila seseorang merendahkan diri karena Allah k, maka Allah k akan mengangkatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/365)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Tak hanya sebatas perintah semata, kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah n banyak melukiskan ketawadhu’an beliau. Beliau n adalah seorang manusia yang paling mulia di hadapan Allah k. Meski demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi beliau. Begitulah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik z tatkala orang-orang berkata kepada Rasulullah n, “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!” Beliau n pun berkata:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهِ اللهُ تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai manusia, hati-hatilah dengan ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya dan utusan-Nya.” (HR. An- Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut syarat Muslim)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Anas bin Malik z  mengisahkan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ اْلأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُوْسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Rasulullah n biasa mengunjungi orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan dalam Ash- Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits hasan)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ketawadhu’an Rasulullah n ini menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik z pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau n mengatakan:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كَانَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Nabi n biasa  melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no.  2168)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Memberikan salam kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi n dan diikuti pula oleh para shahabat beliau g. Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk pendidikan dan pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak, karena anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan hal ini dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.(Syarh Riyadhish Shalihin, 1/366-367)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin Usaid zmenuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi n serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا دِيْنُهُ؟ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ عَلَيْهِ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Aku pernah datang kepada Rasulullah n ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang yang asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya, dia tidak mengetahui tentang agamanya.’ Maka Rasulullah n pun mendatangiku, kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Begitu banyak anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah n yang melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari para shahabat g. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wallahu ta’ala  a’lamu bish-shawab.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">1 Thinatul khabal  adalah keringat atau perasan dari penduduk neraka.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">2 Hullah adalah  pakaian yang terdiri dari dua potong baju.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/124/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/124/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=124&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/menebar-keangkuhan-menuai-kehinaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslimah dan Dakwah</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/muslimah-dan-dakwah/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/muslimah-dan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 08:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/muslimah-dan-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita sama seperti pria dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma`ruf nahi mungkar. Dalil-dalil dari Al-qur`an dan Sunnah mencakup semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur`an tentang hal itu: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ “Kaum mukminin dan mukminat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=123&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Wanita sama  seperti pria dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma`ruf nahi  mungkar.</span></font></p>
<p align="left"><span></span></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dalil-dalil dari Al-qur`an dan Sunnah mencakup semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur`an tentang hal itu:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَالْمُؤْمِنُونَ  وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ  وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Kaum mukminin dan mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubah : 71)</span></font><span id="more-123"></span></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"></span></font><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"></span></font><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">كُنتُمْ خَيْرَ  أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ  الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“ Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar serta kalian beriman kepada Allah.” (Ali Imron : 110)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Hendaknya wanita itu berdakwah kepada Allah dengan adab-adab yang sesuai dengan syari`at yang juga dituntut dari para pria. Wanita itu juga harus sabar dan mengharap pahala dari Allah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">وَاصْبِرُواْ  إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“ Bersabarlah  kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal :  46)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan juga firman  Allah azza wajalla yang menceritakan ucapan Luqman kepada  anaknya:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Wahai anakku, dirikanlah sholat, suruhlah kepada yang ma`ruf, laranglah dari yang mungkar dan bersabarlah engkau menghadapi apa yang menimpamu, karena itu adalah perkara yang diwajibkan Allah.” (Luqman : 17)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Kemudian dia juga hendaknya memperhatikan beberapa perkara, seperti: dia harus menjadi tauladan dalam menjaga iffah (kehormatan), hijab dan amal sholih. Hendaknya dia menjahui tabarruj dan ikhtilath (bercampur-baur antara pria dan wanita yang bukan mukhrim) yang itu adalah terlarang hingga dia berdakwah dengan ucapan dan perbuatan dalam meninggalkan apa yang diharamkan Allah atasnya. (Ini jawaban atas soal: Apakah pendapat Anda antara wanita dan dakwah?)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Soal berikutnya:  Apakah perlu kita sediakan waktu untuk wanita agar dia berdakwah kepada  Allah?</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Jawab: Saya tidak dapati ada larangan dalam hal itu. Jika ditemui ada wanita sholihah yang bisa berdakwah, maka selayaknya dia dibantu, diatur waktunya, diminta darinya untuk membimbing para wanita sejenisnya, karena memang para wanita butuh kepada para pembimbing wanita. Adanya wanita seperti ini di kalangan wanita lainnya kadang lebih bermanfaat dalam menyampaikan dakwah untuk mengajak kepada jalan yang benar daripada pria. Kadang wanita- wanita itu malu bertanya kepada da`i yang pria, sehingga dia menyembunyikan apa yang seharusnya dia tanyakan. Kadang pula dia terlarang untuk mendengarkan dakwah dari pria. Namun jika da`inya wanita, dia tidak demikian. Karena dia bisa berdekatan dengannya dan menyampaikan apa yang perlu baginya serta hal itu lebih besar pengaruhnya.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Maka wanita yang memiliki ilmu hendaknya menjalankan kewajiban dakwah ini dan membimbing kepada kebaikan semampunya berdasarkan firman Allah:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">ادْعُ إِلِى  سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي  هِيَ أَحْسَنُ</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Ajaklah mereka kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” (An-Nahl : 125)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="right"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">قُلْ هَـذِهِ  سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ  اتَّبَعَنِي</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Katakanlah: Inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah berdasarkan bashiroh (ilmu), aku dan orang yang mengikutiku.” (Yusuf : 108)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal sholih dan dia mengatakan: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam).” (At-Taghabun:16)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dan juga firman  Allah Subhanahuwata`ala:</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">“Maka bertaqwalah  kalian semampunya.” (Fushilat : 33)</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;"><br />
</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Ayat-ayat yang  semakna dengan ini cukup banyak. Mencakup pria dan wanita dan hanya Allah lah  yang memberikan taufiq.</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">_________________________________________________</span></font></p>
<p align="left"><font face="Arial"><span style="font-size:10pt;">Dikutip dari  Buletin Islamiy “Al-Minhaj”, Edisi kedua Tahun I, hal. 16.</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/123/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/123/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&amp;blog=732240&amp;post=123&amp;subd=hananismail&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/08/10/muslimah-dan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
