<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanan's Blog &#187; Tulisan Situs</title>
	<atom:link href="http://hananismail.wordpress.com/category/tulisan-situs/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hananismail.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Aug 2007 11:17:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>ms</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hananismail.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/61d49d228d5bcfae5f9ef10dfca58a0f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanan's Blog &#187; Tulisan Situs</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hananismail.wordpress.com/osd.xml" title="Hanan&#8217;s Blog" />
		<item>
		<title>Mewaspadai Lisan Tak Bertulang</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/mewaspadai-lisan-tak-bertulang/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/mewaspadai-lisan-tak-bertulang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 07:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/mewaspadai-lisan-tak-bertulang/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=119&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="farial" align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. <strong>Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya.</strong> Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan.. <span id="more-119"></span>Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka ahsan (mendingan) diam. Inilah realisasi dari sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam <em>&#8220;Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam&#8221; </em><span class="ref">( HR Muslim ) </span></p>
<p class="farial" align="left">Di samping itu kita pun harus paham betul manakah lahan-medan kejelekan sehingga lidah kita tidak keliru memijaknya. Kita harus tahu apakah sebuah hal termasuk dalam bagian dosa bagi lidah kita atau tidak? Bila kita telah tahu , tentunya kita bersegera untuk meninggalkannya.</p>
<p class="farial" align="left">Diantara medan-medan dosa bagi lidah kita antara lain..</p>
<ul>
<li>
<p class="farial" align="left"><font color="#000066"><strong>Ghibah </strong></font><br />
Ghibah bila didefinisikan maka seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam: <em>&#8220;Engkau menyebutkan tentang saudaramu, dengan apa-apa yang dia benci&#8221; terus bagaimana jika yang kita bicarakan tersebut memang benar-benar ada pada saudara kita? &#8220;Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah meng-ghibahinya, dan bila tidak ada padanya maka engkau telah berdusta&#8221;</em> <span class="ref">(HR. Muslim) </span></p>
<p class="farial" align="left">Di dalam Al quran , Allah ta&#8217;ala menggambarkan orang yang meng-ghibahi saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya: <em>&#8220;Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci&#8221;</em> <span class="ref">( Al Hujurat 12)</span></p>
<p>Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai , semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia , apalagi saudara kita sendiri. Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan.</p>
<p>Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam di malam mi&#8217;rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain.</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p class="farial" align="left"><font color="#000066"><strong>Namimah </strong></font><br />
Kalau diartikan ia bermakna memindahkan perkataan dari satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya. Ringkasnya &#8220;adu domba&#8221;. Sehingga Allah mengkisahkan tentang mereka dalam Al-Qur&#8217;an. Mereka yang berjalan dengan namimah , menghasut, dan mengumpat. Di sekitar kita orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator-kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil , bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar . Ancaman Rasulullah bagi tukang namimah <em>&#8221; tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba&#8221;</em> <span class="ref">(HR Bukhari)</span></p>
<p>Akibat ghibah ini sangat besar sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.</li>
</ul>
<ul>
<li>
<p class="farial" align="left"><font color="#000066"><strong>Dusta</strong></font><br />
Dusta adalah menyelisihi kenyataan atau realita. Dusta bukanlah akhlaq orang yang beriman, bahkan ia melekat pada kepribadian orang munafiq <em>&#8220;Tiga ciri orang munafik, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat&#8221;</em> <span class="ref">(HR Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p>Padahal orang munafik balasannya sangat mengerikan &#8220;di bawah kerak api neraka&#8221; Dusta pun mengantarkan pelakunya kepada kejelekan &#8220;Sungguh kedustaan menunjukkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada neraka.</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=119&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/mewaspadai-lisan-tak-bertulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran dalam Perjuangan Yang Suci</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/kesabaran-dalam-perjuangan-yang-suci/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/kesabaran-dalam-perjuangan-yang-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 02:19:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/kesabaran-dalam-perjuangan-yang-suci/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sabar, sabar dan sabar ……………!!! 
Siapa yang tidak pernah mendengar kata ini?
Berulang-ulang orang menyebutnya. Mudah diucapkan namun berat diamalkan. Perkataan dan perintah sabar sangat gampang ditemukan di dalam Al-Qur&#8217;an. Salah satu contohnya yang ada di dalam surat Al Ashr. Allah di surat ini memberikan pujian khusus bagi mereka yang mau memberikan nasehat kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=118&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span><strong><em>Sabar, sabar dan sabar ……………!!! </em><br />
</strong>Siapa yang tidak pernah mendengar kata ini?<br />
Berulang-ulang orang menyebutnya. Mudah diucapkan namun berat diamalkan. <span id="more-118"></span>Perkataan dan perintah sabar sangat gampang ditemukan di dalam Al-Qur&#8217;an. Salah satu contohnya yang ada di dalam surat Al Ashr. Allah di surat ini memberikan pujian khusus bagi mereka yang mau memberikan nasehat kepada kesabaran. Ayat tersebut adalah: &#8220;<em>Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling nasehat menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran.&#8221; </em></p>
<p align="justify">Sebagian besar orang, memahami bahwa yang namanya sabar itu terkait dengan musibah yang menimpa. Sehingga kalau ada mereka yang mendapatkan saudaranya meninggal maka tetangganya pun menasehatinya dengan &#8220;sabar&#8221;. Tak salah apa yang diucapkan. Namun ternyata, kesabaran tak hanya sebatas ketika ditimpa musibah saja. Ada kesabaran lain yang tak kalah pentingnya, yaitu:</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Sabar di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Menjalankan ketaatan kepada Allah bukanlah hal yang ringan. Sangat banyak orang yang paham dengan kebaikan dan ketaatan namun tidak juga mau mengamalkan. Terlebih lagi, menjalankan ketaatan itu ada penghalangnya. Siapakah penghalangnya? Jawabannya, banyak penghalang kita menjalankan ketaatan. Yang pertama adalah jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia terkadang memerintahkan anggota tubuhnya untuk malas berbuat ketaatan. Yang kedua adalah syetan. Syetan paling tidak suka dengan mereka yang menjalankan ketaatan. Ini persis dengan yang disemboyan nenek moyangnya, yaitu iblis semenjak diusir Allah dari surga. Ia dan anak cucunya berupaya untuk menghalangi manusia dari kebaikan dengan berbagai cara. Tak heranlah bagi para muslimah sangat berat untuk menjalankan ketaatan. Memakai jilbab misalnya. Sangat berat, karena memang syetan terus menarik dan mencegah agar muslimah tidak memakainya. Syetan ini ada macamnya juga. Bisa berasal dari manusia maupun dari bangsa jin. Syetan dari bangsa manusia ini berupaya dengan keras agar kebaikan tidak tersebar luas. Makanya mereka berupaya memadamkan cahaya Allah. Contoh gampangnya, orang yang mau menjalankan syariat Allah dengan benar mereka musuhi dan perangi. Jahat lagi, mereka menyebarkan berita palsu bahwa orang yang menjalankan syariat islam identik dengan teroris. Menghadapi musuh-musuh ketaatan yang betebaran ini butuh dengan kesabaran yang ekstra.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sabar dalam meninggalkan perbuatan kemaksiatan. Perbuatan kemaksiatan memang tampak bagus dan indah. Apalagi syetan menghiasi kemungkaran itu dengan hiasan yang luar biasa. Akibatnya? Manusia berbondong-bondong melakukan kemungkaran alias kemaksiatan. Hari ini membuktikan bahwa kemungkaran menjadi sesuatu yang dominan di muka bumi. Orang tak malu lagi berbuat kejelekan di sembarang tempat. Contoh realnya, betapa banyaknya saudara muslimah yang berpakaian minim ala barat. Menampilkan aurat kepada laki-laki yang bukan suaminya. Terus betapa maraknya perjudian di setiap tempat, di sudut kota dan jalanan. Tak ada rasa malu dan merasa bersalah. Kemaksiatan yang lain masih sangat banyak untuk diungkapkan. Lingkungan yang bertebaran dengan maksiat tadi terkadang mempengaruhi kepribadian seorang muslim atawa muslimah. Hingga akhirnya terbawa-bawa tanpa terasa. Maka, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan harus selalu bersanding pada setiap diri muslimah. Tentu, bukan berarti berdiam diri terhadap kemungkaran yang berkembang, namun turut andil dalam memberantasnya.</p>
</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=118&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/kesabaran-dalam-perjuangan-yang-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Usaha Memelihara &amp; Menjauhkan Diri dari Kehinaan</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/usaha-memelihara-menjauhkan-diri-dari-kehinaan/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/usaha-memelihara-menjauhkan-diri-dari-kehinaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 01:14:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/usaha-memelihara-menjauhkan-diri-dari-kehinaan/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan tercela. Hal ini disebut Iffah. Hal-hal yang dapat menumbuhkan iffah antara lain:Pertama: Iman dan Taqwa.
Inilah asas yang paling fundamental di dalam memelihara diri dari segala hal yang tercela. Jiwa yang terpateri oleh iman dan taqwa merupakan modal yang paling utama untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=117&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan tercela. Hal ini disebut Iffah. Hal-hal yang dapat menumbuhkan iffah antara lain:<span id="more-117"></span><strong>Pertama: Iman dan Taqwa.</strong><br />
Inilah asas yang paling fundamental di dalam memelihara diri dari segala hal yang tercela. Jiwa yang terpateri oleh iman dan taqwa merupakan modal yang paling utama untuk membentengi diri dari hal-hal yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Allah membrikan jaminan kepada orang-orang yang amal solehnya didasari oleh iman dengan kehidupan yang baik,<em> &#8220;Barang siapa mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia orang beriman, maka sesungguhnya kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan&#8221;</em> (An Nahl: 97) .</p>
<p align="justify">Lalu terhadap orang beriman yang taqwa Allah mmberikan <em>AlFurqan, </em>yaitu petunjuk yang dapat membedakan antara Al Haq dengan Al Bathil. <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Al Furqan dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.&#8221;</em> (Al Anfal: 29)</p>
<p>Dan manakala iman dan taqwa dalam jiwa seorang muslim telah rapuh, maka itulah pertanda mudahnya dirinya terjebak dalam kesesatan dan perbuatan tercela. Maka memelihara dan memupuk iman ini merupakan kewajiban yang harus mendapatkan prioritas utama.</p>
<p><strong>Kedua: Nikah</strong><br />
Inilah salah satu rambu jalan yang jelas menuju kesucian diri. Bahkan nikah adalah sarana yang paling baik dan paling afdhol untuk menumbuhkan sikap iffah pada diri seorang muslim. Nikah adalah sesuatu yang fithri pada diri seorang muslim, di mana padanya Allah menjadikan rasa cinta serta kasih sayang dan kedamaian. <em>&#8220;Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.&#8221;</em> (Ar Rum: 21).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda: <em>&#8220;Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih (dapat) menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena itu dapat mengobatinya.&#8221;</em> (Muttafaq Alaih)</p>
<p>Dalam hadits lain beliau bersabda: <em>&#8220;Apabila seorang hamba telah menikah, maka ia telah menyempurnakan setengah agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah padayang setengah lagi.&#8221;</em> (HR. Al Baihaqy, shohih) Ayat dan hadits-hadits tadi merupakan nash-nash yang jelas mendorong untuk nikah, di mana ketenteraman hati, cinta dan kasih sayang dapat diraih oleh seorang muslim. Dan yang lebih utama lagi adalah bahwa nikah merupakan sarana yang dapat memelihara pandangan dan kehormatan diri seetiap muslim.</p>
<p><strong>Ketiga: Rasa Malu</strong><br />
Malu adalah akhlak indah dan terpuji. Malu adalah sifat yang sempurna dan perhiasan yang anggun. Terlebih indah jika malu ini menghiasi seorang muslimah. Sifat malu selalu tumbuh dalam sikap yang baik dan memadamkan keinginan untuk berbuat tercela. Allah telah mentakdirkan sifat malu ini hanya ada pada manusia untuk membedakannya dengan hewan. Malu adalah potret pribadi yang agung dan terpuji. Tentang keutamaan malu ini Rasulullah Shallalhu Alaihi wa Sallam bersabda:<em> &#8220;Malu dan iman adalah bersaudara, maka jika salah satu dari keduanya itu dicabut, tercabut pulalah yang lainnya.&#8221;</em> (HR. Al Hakim, shohih)</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya setiap agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu.&#8221;</em> (HR. Malik, Ibnu Majah, Al Hakim, shohih)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=117&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/usaha-memelihara-menjauhkan-diri-dari-kehinaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sarana Penyucian dan Pembersihan Hati &amp; Jiwa</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/sarana-penyucian-dan-pembersihan-hati-jiwa/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/sarana-penyucian-dan-pembersihan-hati-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 01:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/sarana-penyucian-dan-pembersihan-hati-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Penyucian dan pembersihan diri dari segala keburukan serta mengangkatnya ke tingkat moralitas yang luhur merupakan tugas penting para Rasul yang memang diutus untuk membawa misi demikian. Sebagian besar hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun diabdikan untuk misi yang sama karena moralitas yang luhur merupakan salah satu pokok dasar untuk memulai kehidupan secara islami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=116&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span><strong>Penyucian dan pembersihan diri</strong> dari segala keburukan serta mengangkatnya ke tingkat moralitas yang luhur merupakan tugas penting para Rasul yang memang diutus untuk membawa misi demikian. Sebagian besar hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun diabdikan untuk misi yang sama karena moralitas yang luhur merupakan salah satu pokok dasar untuk memulai kehidupan secara islami menurut manhaj kenabian. <span id="more-116"></span>Orang yang hendak merancang tujuan tentu dia akan menyiapkan pula sarananya. Dalam analogi yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan berbagai macam sarana penyucian diri. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskannya secara rinci kepada umatnya agar mereka bisa mencapai tujuan dimaksud. Oleh karena itu, penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus selain syi’ar-syi’ar islam.</p>
<p align="justify">Ketika menyimpulkan syi’ar-syiar islam dan mengaitkannya dengan tujuan moralitas luhur ini maka akan tampak jelas bahwa proses penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus.</p>
<p><strong>Tauhid merupakan sarana penyucian diri</strong></p>
<p>Kesadaran diri terhadap kebenaran adalah pangkal kemuliaan dan induk moralitas yang luhur. Pangkal hikmah adalah ma’rifat (penganalan), menyembah, dan takut kepada Allah ta’ala. Tak ada kebenaran yang lebih besar dan lebih jelas menurut orang yang berakal, selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu menyekutukan Allah merupakan tindakan kotor lagi najis, sebagaimana yang difirmankan Allah :<em>”Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”.</em> (At-Taubah:28).</p>
<p>Demikianlah ungkapan Al-Qur’an yang menilai ruh orang-orang musyrik itu najis dan jiwa mereka pun kotor. Ruh dan jiwa mereka itu menjadi ukuran penilaian seberapa bagus kualitas manusia itu. Dengan demikian, manusia secara keseluruhan adalah najis, menjijikkan dan dijauhi oleh orang-orang yang menyucikan diri.</p>
<p>Ibnu Katsir berpendapat, ayat di atas menunjukkan bahwa orang musyrik itu najis sebagaimana ditegaskan dalam haits shahih,”Orang Mukmin itu tidak najis”. (HR Bukhari Muslim). Adapun najis badan, maka menurut jumhur, orang mukmin itu tidak najis fisik maupun non-fisik, mengingat, Allah saja masih menghalalkan makanan ahlul kitab bagi orang-orang mukmin. Tapi sebagian pengikut paham zahiriyah menajiskan badan orang mukmin. Hati mereka (para pengikut zahiriyah) telah kotor, dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak hendak membersihkannya. Mereka telah tercebur ke dalam kotoran dan berkubang dalam najis.</p>
<p>Dengan demikian jelas sudah bahwa islam secara keseluruhan adalah kesucian, penyucian diri, dan pengembangan dan keutamaan. Siapa saja yang berpedoman padanya maka keimanan akan semakin jernih dan mendapatkan Nur dari Rabb-nya.<br />
<em>“Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. </em>(Al-An’am:125).</p>
<p><strong>Wudhu termasuk penyucian diri</strong></p>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:<em>”Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.</em> (At-Taubah:108).</p>
<p><strong>Mandi dan tayamum bagian dari penyucian diri</strong></p>
<p>Allah berfirman:<em>”Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian dan(basuh) kaki kalian sampai kedua mata kaki, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah wajah kalian dan tangan kalian dengan tangan itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur”.</em> (Al-Maidah:6)</p>
<p><strong>Menjauhi istri pada saat haid dan nifas termasuk penyucian diri </strong></p>
<p>Allah subhanahu wata’ala berfirman:<em>”Mereka bertanaya kepadamu tentang haid. Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanitapada waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”. </em>(Al-Baqoroh:53).</p>
<p>Penyucian anggota badan harus dibarengi dengan penyucian hati. Itulah sebabnya penyucian anggota badan diikuti dengan pemberian perlindungan kepada mereka dari godaan syetan dan peneguhan hati serta pengokohan pendirian. Hal ini terkanduing dalam firman-Nya:<em>”Dan menghilangkan dari kalian gangguan-ganguan syaitan dan uuntuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian)”. </em>(Al-Anfal:11).</p>
<p>Menyucikan hati telah dijelaskan dalm Al-Qur’an:<em>”Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka”.</em> (Al-Ahzab:53).<br />
Sedangkan menyucikan anggota badan, firman-Nya:<em>”Dan allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu”.</em>(Al-Anfal:11)</p>
<p>Antara hati dan pakianpun ada kaitan,<em>”Dan pakaianmu bersihkanlah”. </em>(Al-Muddatstsir:4)<br />
Ibnu Abbas mengemukakan:”Jangan engkau tutupi jiwamu dengan pakaian kemaksiatan dan hal yang menjijikkan”.<br />
Bagaimanapun membersihkan pakaian dari kotoran dan meminimalkan kotoran yang mungkin melekat pada pakaian merupakan satu sekian perintah membersihkan pakaian. Karena pakaian yang bersih dapat menyempurnakan amalan dan perangai diri. Badan dan pakaian yang najis bisa menyebabkan batin menjadi najis. Itulah sebabnya mengapa kotoran yang menempel di pakaian atau badan harus segera dihilangkan dan dijauhi.</p>
<p><strong>Shalat sebagai sarana penyucian diri</strong></p>
<p>Shalat berfungsi menyucikan diri dan anggota badan dari perbuatan keji dan mungkar. Firman Allah:<em>”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. </em>(Al-Ankabut:45).</p>
<p>Sebab dalam shalat terdapat tiga perangai, yaitu ikhlas, rasa takut, dan dzikir kepada Allah. Ikhlas menyuruh kpeda kebaikan, rasa takuit mencegah diri diri dari kemungkaran, dan dzikir kepada Allah membuat cerdas jiwa.</p>
<p>Shalat adalah wujud kebersamaan dengan Allah sekaligus sebagai sarana berkomunikasi dengan-Nya, yang secara psikologis akan menciptakan perasaan malu bila saat bersama dengan-Nya masih saja melakukan dosa-dosa besar dan kekejian.</p>
<p>Shalat merupakan bentuk pelepasan diri. Dengan shalat (yang benar-red) jiwa tidak lagi berani melakukan kekejian dan kemungkaran.</p>
<p><strong>Zakat merupakan saran penyucian dan pembersihan diri<br />
</strong><br />
Firman Allah Subhanahu wata’ala :<em>”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ( menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahmengetahui”. </em>(At-Taubah:103).</p>
<p>Zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna serta hal-hal yang tidak senonoh. Sebagaimana hadits Ibnu Abbas ,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang tidak berguna, tindakan tidak senonoh dan memberi makan kepada orang-orang miskin.”(hadits Hasan)</p>
<p>Dengan demikian dapat diartikan, menginfakkan harta untuk mencari keridhoan Allah merupakan sarana untuk membersihkan, menyucikan, mengembangkan dan membenahi jiwa. Mengenai masalah ini Allah telah berfirman:<em>”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan”.</em>(Al-Lail:17-21).</p>
<p><strong>Puasa sebagai sarana penyucian dan pembersihan diri</strong></p>
<p>Firman Allah:<em>”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.</em> (Al-Baqoroh:183).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa puasa merupakan salah satu sebab pemberian ampunan, pembebasan dari neraka, dan masuk surga. Puasa adalah perisai, obat dan benteng dari hawa nafsu. Sebab puasa dapat mengagungkan jiwa, menindas dan memenjarakan hawa nafsu. Sehingga jiwa benar-benar terang dan tenteram.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=116&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/sarana-penyucian-dan-pembersihan-hati-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Syetan Menggoda Bani Adam</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/metode-syetan-menggoda-bani-adam/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/metode-syetan-menggoda-bani-adam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 01:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/metode-syetan-menggoda-bani-adam/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Setan menggunakan metode yang bertahap dalam menyesatkan manusia, baik dalam materi ajakannya maupun dalam caranya. Ibnu Qayyim menyebutkan 6 tahapan ajakan setan sebagai berikut:

Tahap pertama: setan berusaha agar manusia menjadi kafir atau musyrik. Jika orang tersebut adalah orang Islam, usahanya diturunkan ke tahap berikutnya.

Tahap kedua: yaitu tahapan bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama). Manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=115&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Setan menggunakan metode yang bertahap dalam menyesatkan manusia, baik dalam materi ajakannya maupun dalam caranya. <span id="more-115"></span><strong>Ibnu Qayyim menyebutkan 6 tahapan ajakan setan sebagai berikut:<br />
</strong><br />
<strong>Tahap pertama:</strong> setan berusaha agar manusia menjadi kafir atau musyrik. Jika orang tersebut adalah orang Islam, usahanya diturunkan ke tahap berikutnya.<br />
<strong><br />
Tahap kedua:</strong> yaitu tahapan bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama). Manusia dibuatnya untuk membuat dan menerapkan bid’ah. Jika orang tersebut termasuk ahlussunnah, dimulailah tahap ketiga.</p>
<p align="justify"><strong>Tahap ketiga:</strong> yaitu tahap kabaa-ir, maksiat, berupa dosa-dosa besar. Jika orang tersebut dijaga Allah dari melakukan dosa besar, setan tidak putus asa untuk terus menggoda.</p>
<p><strong>Tahap keempat:</strong> yatiu tahap shagaa-ir, maksiat berupa dosa-dosa kecil. Jika orang tersebut terjaga juga darinya, mulailah setan menyibukkan orang itu dengan metode lain.</p>
<p><strong>Tahap kelima:</strong> yaitu setan menyibukkan manusia dengan hal-hal yang mubah (boleh), sehingga orang itu menghabiskan waktunya dalam hal mubah, tidak sibuk dalam hal yang berpahala, yang kita semua diperintahkan mengamalkannya.</p>
<p>Tahap keenam: yaitu setan menyibukkan manusia dengan amal-amal yang mafdhul (kurang utama) sehingga lalai dari amal yang afdhal (lebih utama) yang lebih baik dari amal mafdhul tersebut. Misalnya seseorang disibukkan dengan perkara sunat daripada fardhu, maka sibuklah dia dengan yang disunatkan dan meninggalkan yang difardhukan.</p>
<p><strong>Setan sangat bersungguh-sungguh dalam dakwahnya</strong>, dengan mengajak secara bertahap dalam materi ajakannya. Adapun dalam cara mengajaknya, maka setan itu menjerumuskan manusia selangkah demi selangkah. Sebagaimana Allah berfirman: <em>“Makanlah dari apa yang dirizkikan Allah kepada kalian, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”</em> (QS. Al An’aam : 142).</p>
<p>Pada mulanya setan berusaha menggelincirkan manusia sedikit-sedikit, kemudian bertahap menuju tujuannya. Setan masuk pada siapapun dengan metode yang cocok dengan jati diri manusia yang digodanya.</p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Setan masuk pada orang yang zuhud (sederhana) dengan kezuhudannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Setan masuk pada orang alim (berilmu) dengan melalui pintu ilmu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Masuk pada orang jahil (bodoh) dengan kebodohannya pula.</p>
</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/115/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/115/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=115&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/metode-syetan-menggoda-bani-adam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasyatnya&#8230;.. Cinta!!!!</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/cinta-dasyat/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/cinta-dasyat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 00:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Segar Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tamasya Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyahtun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Tombo Ati]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/cinta-dasyat/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; &#8220;Cinta&#8221;, layaknya makanan pokok, istilah yang satu ini tidak pernah pudar sepanjang jaman. Selalu hadir dimanapun dan kemanapun kita berpaling. Betapa Dasyatnya Fitnah Cinta&#8230;. sehingga orang yang sedang dilanda cinta lazimnya akan terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi lalai dari mencintai Alloh serta Rasul-Nya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=114&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=489&amp;Itemid=15">MediaMuslim.Info</a> &#8211; &#8220;Cinta&#8221;, layaknya makanan pokok, istilah yang satu ini tidak pernah pudar sepanjang jaman. Selalu hadir dimanapun dan kemanapun kita berpaling. Betapa Dasyatnya Fitnah Cinta&#8230;. sehingga orang yang sedang dilanda cinta lazimnya akan terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi lalai dari mencintai Alloh serta Rasul-Nya.<span id="more-114"></span></p>
<p align="justify" dir="ltr">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Patutkah kamu mengambil dia (iblis) dan turunan-turunannya sebagai wali selain daripada-Ku , sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Alloh) bagi orang-orang yang zalim.&#8221; </em>(QS: Al-Kahfi: 50).</p>
<p>Sesunguhnya seseorang yang bercita-cita tinggi tidak akan terpengaruh oleh cinta yang bisa menghalangi ketenangan, membuat tidur tidak bisa nyenyak, membuat bingung akal pikiran, dan bahkan bisa membuat gila. Betapa sering terjadi seseorang yang sedang dimabuk cinta menghabiskan harta dan mengorbankan jiwa serta kehornatannya demi yang dicintainya. Bahkan ia rela mengorbankan agama dan dunianya.</p>
<p>Cinta sanggup membuat tuan menjadi pelayan, dan penguasa menjadi budak. Anda lihat, banyak orang yang sudah terlanjur masuk dalam jerat cinta ingin keluar darinya. Akan tetapi, hal itu mustahil. Betapa banyak fitnah cinta yang menjebloskan orang-orang yang bersangkutan ke dalam Neraka Jahim, menjerumuskan mereka pada siksa yang sangat pedih, dan membuat nereka meneguk air nereka yang panas mendidih. Wallohu A&#8217;lam</p>
<p>(Sumber Rujukan: <em>&#8216;Uluwwul Himmah</em>, oleh Muhammad Ismail Al-Muqoddam; dan <span>Lihat juga; <em>Raudhat Al-Muhibbin </em></span><em>wa Nuzhatul musytaqin</em>, oleh Ibnul Qoyyim<span>, hal 182-190; disarikan oleh Gani)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/114/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/114/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=114&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/29/cinta-dasyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SeSaat Khutbah Jum’at</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/28/diam-saat-khutbah-jumat/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/28/diam-saat-khutbah-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 06:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Derajat Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[El Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Info Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Serba Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Atau Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Study Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Teladan Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Zona Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/28/diam-saat-khutbah-jumat/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Di antara syiar Jum’at yang paling besar ialah dua khutbah. Diantara adab orang yang mendengarkannya ialah diam dan mendengarkan khatib selama dua khutbah itu disampaikan, agar dia dapat menyerap nasihatnya dan mengamini doanya. Karena itulah Rasululloh Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam memperingatkan berkata-kata ketika khutbah disampaikan, meski dengan ucapan yang singkat. Seseorang yang berkata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=112&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/"><strong><font color="#d9e81d">MediaMuslim.Info</font></strong></a> &#8211; Di antara syiar Jum’at yang paling besar ialah dua khutbah. Diantara adab orang yang mendengarkannya ialah diam dan mendengarkan khatib selama dua khutbah itu disampaikan, agar dia dapat menyerap nasihatnya dan mengamini doanya. Karena itulah Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam </em>memperingatkan berkata-kata ketika khutbah disampaikan, meski dengan ucapan yang singkat. Seseorang yang berkata kepada rekan di sampingnya, “Diamlah!” ketika imam menyampaikan khutbah, berarti dia telah mengucapkan perkataan yang rusak, karena dia melakukan sesuatu yang menafikan perhatian terhadap khutbah.</p>
<p align="center"><strong><font color="#ffcc00">Naskah Hadist:<br />
عَنْ أَبُوهُرَ يْرَة أَنَّ رَسُو لَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قاَلَ إِذَا قُلْتَ لِصَا حِبِكَ يَوْمَ الْخُمُعَةِ أَنْصِتْ و َالإِ مَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْ تَ</font></strong></p>
<p align="justify"><em>“Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam bersabda, ‘Jika engkau berkata kepada rekanmu, ‘Diamlah’, pada Jum’at padahal imam sedang menyampaikan khutbah, berarti engkau telah mengucapkan perkataan yang rusak’.”</em></p>
<p><font color="#ffcc00"><strong>Penjelasan Lafazh:</strong><br />
</font><em>Lagha</em> seperti bentuk<em> ghaza</em>, yang artinya mengucapkan perkataan batil yang tidak ada manfaatnya. An-Nadhar bin Syumail menafsirinya dengan perkataan yang tidak ada pahalanya.</p>
<p><strong><font color="#ffcc00">Kesimpulan Hadist:</font></strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Kewajiban mendengarkan khatib pada saat Jum’at. Ibnu Abdil-Barr menukil ijma’ tentang hukum wajibnya mendengarkan khutbah ini.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keharaman berbicara ketika mendengarkan khutbah, karena pembicaraan itu menafikan keharusan mendengarkan pada saat itu.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Ada pengecualian untuk masalah ini, yaitu orang yang diajak bicara oleh khatib atau orang yang berbicara dengan khatib, seperti tentang orang yang masuk masjid padahal belum shalat tahiyatul masjid atau seperti kisah Arab Badui yang mengadukan musim kemarau kepada Rasulullah Shalallahu’alaui wa sallam.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Sebagian ulama mengecualikan orang yang tidak dapat mendengarkan khutbah karena jaraknya yang jauh, jika tidak diharuskan diam, tapi dapat melakukan dzikir atau membaca Al-Qur’an. Tapi pendapat ini menimbulkan banyak tanggapan. Adapun orang yang tidak dapat mendengar khutbah tuli, tidak boleh membaca dengan suara nyaring sehingga mengganggu sekitarnya. Dia dapat melakukannya di dalam hati.</p>
</li>
</ol>
<p>(Sumber Rujukan: Taysirul ‘Allam hadist ke134)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/112/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/112/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=112&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/28/diam-saat-khutbah-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits-Hadits Lemah Dan Palsu</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/26/hadits-hadits-lemah-dan-palsu/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/26/hadits-hadits-lemah-dan-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2007 05:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Derajat Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[El Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits-Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Info Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Serba Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Shahih Atau Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Study Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Teladan Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Zona Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/26/hadits-hadits-lemah-dan-palsu/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasululloh Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam ada yang shahih, hasan, dha&#8217;if (lemah), dan maudhu&#8217; (palsu). Dalam kitab haditsnya, Imam Muslim menyebutkan di awal kitab sesuatu yang memperingatkan tentang hadits dha&#8217;if, memilih judul: &#8220;Bab larangan menyampaikan hadits dari setiap apa yang didengar.&#8221; 
Berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam, yang artinya: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=111&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/"><strong><font color="#d9e81d">MediaMuslim.Info</font></strong></a> &#8211; Hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam </em>ada yang shahih, hasan, dha&#8217;if (lemah), dan maudhu&#8217; (palsu). Dalam kitab haditsnya, Imam Muslim menyebutkan di awal kitab sesuatu yang memperingatkan tentang hadits dha&#8217;if, memilih judul: &#8220;Bab larangan menyampaikan hadits dari setiap apa yang didengar.&#8221; <span id="more-111"></span></p>
<p align="justify">Berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Cukuplah seseorang sebagai pendusta, jika ia menyampaikan hadits dari setiap apa yang ia dengar.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim, menyebutkan: &#8220;Bab larangan meriwayatkan dari orang-orang dha&#8217;if (lemah).&#8221; Berdasarkan sabda Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Kelak akan ada di akhir zaman segolongan manusia dari umatku yang menceritakan hadits kepadamu apa yang kamu tidak pernah mendengarnya, tidak juga nenek moyang kamu, maka waspadalah dan jauhilah mereka.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>Imam lbnu Hibban dalam kitab Shahih-nya menyebutkan: &#8220;Pasal; Peringatan terhadap wajibnya masuk Neraka orang yang menisbatkan sesuatu kepada <em>Al-Mushthafa </em>(Muhammad), sedangkan dia tidak mengetahui kebenarannya.&#8221; Selanjutnya beliau menyebutkan dasarnya, yaitu sabda Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa berbohong atasku (dengan mengatakan) sesuatu yang tidak aku katakan, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.&#8221; </em>(HR: Ahmad, hadits hasan)</p>
<p>Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> memperingatkan dari hadits-hadits maudhu&#8217; (palsu), dengan sabdanya, yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Tetapi sungguh amat disayangkan, kita banyak mendengar dari para syaikh hadits-hadits maudhu&#8217; dan dha&#8217;if untuk menguatkan madzhab dan kepercayaan mereka. Di antaranya seperti hadits, yang artinya: <em>&#8220;Perbedaan (pendapat) di kalangan umatku adalah rahmat.&#8221;</p>
<p></em>Al-Allamah lbnu Hazm berkata, &#8220;ltu bukan hadits, bahkan ia hadits batil dan dusta, sebab jika perbedaan pendapat (khilafiyah) adalah rahmat, niscaya kesepakatan (ittifaq) adalah sesuatu yang dibenci. Hal yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.&#8221;</p>
<p>Termasuk hadits makdzub (dusta) adalah: <em>&#8220;Belajarlah (ilmu) sihir, tetapi jangan mengamalkannya.&#8221; &#8220;Seandainya salah seorang di antara kamu mempercayai (meski) terhadap sebongkah batu, niscaya akan bermanfaat baginya.&#8221;</em>  <strong><font color="#ffcc00">Dan masih panjang lagi deretan hadits-hadits maudhu&#8217; lainnya.</p>
<p></font></strong>Adapun hadits yang kini banyak beredar: <em>&#8220;Jauhkanlah masjidku dari anak-anak kecil dan orang-orang gila.&#8221; </em><strong><font color="#ffcc00">Menurut Ibnu Hajar adalah hadits dha&#8217;if, lemah. Ibnu Al-Jauzi berkata, hadits itu tidak shahih. Sedang Abdul Haq mengomentari sebagai hadits yang tidak ada sumber asalnya. </font></strong></p>
<p>Penolakan terhadap hadits tersebut lebih dikuatkan lagi oleh ada-nya hadits shahih dari Rasululloh<em> Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Ajarilah anak-anakmu shalat, saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya, ketika mereka berusia sepuluh tahun.&#8221;</em> (HR: Ahmad, hadits shahih)</p>
<p>Mengajar shalat tersebut dilakukan di dalam masjid, sebagaimana Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>  telah mengajar para sahabatnya. Rasululloh<em> Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>  mengajar dari atas mimbar, sedang anak-anak ketika itu berada di masjid Rasul, bahkan hingga mereka yang belum mencapai baligh.</p>
<p>Tidak cukup pada akhir setiap hadits kita mengatakan: &#8220;Hadits riwayat At-Tirmidzi&#8221; atau lainnya. Sebab kadang-kadang, beliau juga meriwayatkan hadits-hadits yang tidak shahih. Karena itu, kita harus menyebutkan derajat hadits: shahih, hasan atau dha&#8217;if. Adapun mengakhiri hadits dengan mengatakan, &#8220;Hadits riwayat Al-Bukhari atau Muslim&#8221; maka hal itu cukup. Karena hadits-hadits yang diriwayatkan oleh kedua imam tersebut senantiasa shahih.</p>
<p>Hadits dha&#8217;if tidak dinisbatkan kepada Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, karena adanya cacat dalam sanad (jalan periwayatan) atau matan (isi hadits).</p>
<p>Jika salah seorang dari kita pergi ke pasar, lalu melihat daging yang gemuk segar dan daging yang kurus lagi kering, tentu ia akan memilih yang gemuk segar dan meninggalkan daging yang kurus lagi kering.</p>
<p>Islam memerintahkan agar dalam berkurban kita memilih binatang sembelihan yang gemuk dan meninggalkan yang kurus. Jika demikian, bagaimana mungkin diperbolehkan mengambil hadits dha&#8217;if dalam masalah agama, apalagi masih ada hadits yang shahih&#8230;?</p>
<p>Para ulama hadits memberi ketentuan, bahwa hadist dha&#8217;if tidak boleh dikatakan dengan lafazh: Qoola Rasuulullaahi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>  bersabda), karena lafazh itu adalah untuk hadits shahih. Tetapi hadits dha&#8217;if itu harus diucapkan dengan lafazh <em>&#8220;ruwiya&#8221;</em> (diriwayatkan), dengan shighat majhul (tidak diketahui dari siapa). Hal itu untuk membedakan antara hadits dha&#8217;if dengan hadits shahih.</p>
<p>Sebagian ulama kontemporer berpendapat, hadits dha&#8217;if itu boleh diambil dan diamalkan, tetapi harus memenuhi kriteria berikut:</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify">Hadits itu menyangkut masalah <em>fadha&#8217;ilul a&#8217;maal</em> (keutamaan-keutamaan amalan)</div>
</li>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify">Hendaknya berada di bawah pengertian hadits shahih.</div>
</li>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify">Hadits itu tidak terlalu amat lemah (dha&#8217;if).</div>
</li>
<li class="MsoNormal">
<div align="justify">Hendaknya tidak mempercayai ketika mengamalkan, bahwa hadits itu berasal dari Rasululloh<em> Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam.</em></div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong><font color="#ffcc00">Tetapi, saat ini orang-orang tak lagi mematuhi batasan syarat-syarat tersebut, kecuali sebagian kecil dari mereka.</p>
<p></font></strong>(Sumber Rujukan: Al Firqotun Naajiyah, oleh Asy Syaikh Muhammad Jamil Zainu)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=111&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/26/hadits-hadits-lemah-dan-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memakan Daging Katak dan Ular, Halalkah?</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/memakan-daging-katak-dan-ular-halalkah/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/memakan-daging-katak-dan-ular-halalkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 17:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Al Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[El Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[El Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa-Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Himbauan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama-Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/memakan-daging-katak-dan-ular-halalkah/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Bolehkah makan daging Katak? Atau menyantap daging Ular? Walaupun mungkin terasa lezat dilidah, jangan lantas menyantapnya. Teliti dulu, boleh atau tidak dikonsumsi!. Dalam Islam, ada binatang yang diperintahkan dan dilarang dibunuh. Dan perintah itu berhubungan dengan kebolehan menyantap dagingnya.
Yang Dilarang dan Diperintahkan Dibunuh
Ada beberapa jenis binatang yang dilarang dalam Islam untuk dibunuh, seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=91&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Bolehkah makan daging Katak? Atau menyantap daging Ular? Walaupun mungkin terasa lezat dilidah, jangan lantas menyantapnya. Teliti dulu, boleh atau tidak dikonsumsi!. Dalam Islam, ada binatang yang diperintahkan dan dilarang dibunuh. Dan perintah itu berhubungan dengan kebolehan menyantap dagingnya.<span id="more-91"></span></p>
<p align="justify"><strong>Yang Dilarang dan Diperintahkan Dibunuh</strong><br />
Ada beberapa jenis binatang yang dilarang dalam Islam untuk dibunuh, seperti semut, lebah, burung Pelatuk (Hud-Hud), burung Shurad dan Katak. Sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Abbas beliau berkata, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya Nabi melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hud-Hud dan burung Shurad</em>&#8220;<em> </em>(HR:  Ahmad dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dan Dari Abdurrahman bin Utsman bahwasanya seorang tabib bertanya kepada Nabi tentang katak yang dijadikan obat, lalu beliau melarang membunuhnya.<em> </em>(HR: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)</p>
<p>Demikian juga ada beberapa hewan yang diperintahkan dibunuh seperti Tikus, Ular, Kala jengking, Srigala, Rajawali, Gagak dan Cicak, sebagaimana ada dalam hadits, yang artinya: <em>&#8220;Dari A’isyah beliau berkata, Rasululloh bersabda; Lima dari binatang semuanya jelek dan merusak dibunuh di luar tanah haram (tanah suci) dan di tanah suci, yaitu Gagak, Rajawali ,Kalajengking, Tikus, dan Srigala&#8221; </em>(Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p>Sesungguhnya nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Lima binatang jelek dan merusak, boleh dibunuh diluar tanah haram (tanah suci) dan di tanah suci, yaitu Ular, Gagak yang ada warna putih di perut atau punggung, Tikus, Srigala, dan Rajawali&#8221; </em>(HR: Muslim)</p>
<p>Dari Ummu Syariek bahwa Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>memerintahkan membunuh Cicak. (HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Dari A’isyah beliau berkata:<em> &#8220;Sesungguhnya Rasululloh menceritakan kepada kami bahwa Nabi Ibrahim ketika dilemparkan kedalam api, tidak ada seekor hewan pun kecuali memadamkan api dari beliau kecuali Cicak. Reptil ini malah meniupkan api kepada beliau, sehingga Rasulullah memerintahkan untuk membunuhnya&#8221;</em> (HR: Ahmad dan An-Nasa’i)</p>
<p><strong>Hukum Makan Dagingnya<br />
</strong>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memakan hewan-hewan tersebut yang terbagi dalam 2 pendapat, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama: </strong>Larangan dan perintah membunuh tersebut menunjukkan larangan memakannya.<br />
Karena dengan perintah membunuhnya-padahal beliau melarang membunuh hewan yang halal tanpa tujuan untuk dimakan-menunjukkan pengharamannya. Dapat difahami bahwa semua yang diperbolehkan membunuhnya tanpa sembelihan syar’i adalah diharamkan mengonsumsinya, sebab bila diperbolehkan, tentulah Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tidak membolehkan membunuhnya. Berdasarkan hal ini, diharamkan memakan seluruh hewan yang ada perintah atau larangan membunuhnya. Imam Al-Khathabi ketika menjelaskan keharaman membunuh Katak (Kodok) menyatakan: &#8220;Dalam hadits ini ada penunjukkan pengharaman makan Katak dan ia tidak masuk dalam binatang air yang dihalalkan. Semua hewan yang tidak boleh dibunuh, alasannya karena salah satu dari dua hal yaitu kesucian pada dirinya, seperti Manusia. Yang kedua karena pengharaman dagingnya seperti burung Hud-Hud, Shurad, dan sejenisnya. Apabila Katak tidak diharamkan dengan alasan pertama, maka tentu larangan itu kembali ke sebab yang lain. Rasulullah melarang menyembelih hewan kecuali untuk dimakan&#8221;. (lihat kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud).</p>
<p>Di antara ulama sekarang yang menguatkankan pendapat ini adalah Syeikh Abdullah bin Abdurahman Ali Basam dalam kitab <em>Taudhih Al-Ahkaam Syarah Bulugh Al-Maraam</em>, beliau menyatakan: &#8220;Diantara ketentuan dan kaidah mengenal hewan dan burung yang haram dimakan dagingnya adalah perintah syariat untuk membunuhnya.&#8221;</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Perintah membunuh hewan atau larangan membunuhnya tidak mesti menunjukkan pengharamannya.<br />
Kemungkinan Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melarangnya karena hewan itu menyerang dan mengganggu manusia. Sebaliknya, beliau melarang membunuhnya karena hewan tersebut tidak mengganggu manusia. Di antara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Syeikh Shalih Al-Fauzan. Beliau menyatakan: &#8220;Yang kuat menurut saya adalah pendapat ini, karena pada asalnya penghalalan dan pengharaman hanya ada apabila ada dalil yang memindahkan dari hukum asal. Oleh sebab itu, yang tidak ada dalil shahih (yang memindahkan hukum tersebut), hukumnya adalah kehalalan jenis hewan ini (boleh dimakan). Sedangkan pendalilan tentang keharaman jenis hewan karena perintah membunuhnya, tidak menunjukkan pengharaman. <em>Wallahu A’lam.&#8221;</em></p>
<p>Namun perlu diketahui bahwa di antara hewan-hewan yang disebutkan tadi, ada yang dilarang dengan sebab lain. Seperti binatang buas bertaring dan burung berkuku mencengkram seperti Srigala, Rajawali, Gagak, sehinga tidak dijadikan alasan penghalalannya. Demikianlah pendapat para ulama sekitar permasalahan ini, mudah-mudahan dapat menambah wawasan dan ilmu kita.</p>
<p>(Sumber Rujukan: kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud, Info Halal, Mukhtasar Sahih Muslim, Taudhih Al-Ahkaam Syarah Bulugh Al-Maraam)<br />
ID Pengirim <strong>Abu Abbas </strong>melalui email</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=91&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/memakan-daging-katak-dan-ular-halalkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mushhaf al-Qur&#8217;an Yang Sudah Rusak</title>
		<link>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/mushhaf-al-quran-yang-sudah-rusak/</link>
		<comments>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/mushhaf-al-quran-yang-sudah-rusak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 16:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hananismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Al Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[El Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[El Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatawa Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa-Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Himbauan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama-Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/mushhaf-al-quran-yang-sudah-rusak/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Apabila lembaran-lembaran tulisan al-Qur&#8217;an sudah rusak dan sobek karena sering dibaca, atau sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi atau ada tulisan yang salah dan tidak dapat diperbaiki, maka boleh dipendam tanpa dibakar dan boleh juga dibakar terlebih dahulu kemudian dipendam ditempat yang jauh dari kotoran dan pijakan kaki manusia untuk menjaga lembaran tulisan al-Qur&#8217;an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=90&subd=hananismail&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Apabila lembaran-lembaran tulisan al-Qur&#8217;an sudah rusak dan sobek karena sering dibaca, atau sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi atau ada tulisan yang salah dan tidak dapat diperbaiki, maka boleh dipendam tanpa dibakar dan boleh juga dibakar terlebih dahulu kemudian dipendam ditempat yang jauh dari kotoran dan pijakan kaki manusia untuk menjaga lembaran tulisan al-Qur&#8217;an tersebut dari pembuangan begitu saja dan agar tidak terjadi perubahan atau perselisihan dengan tersebarnya mushhaf yang ada kesalahan dalam penulisannya atau pencetakkannya.<span id="more-90"></span></p>
<p align="justify">Berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam bab Pengumpulkan al-Qur&#8217;an bahwa Utsman bin Affan <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> memerintahkan empat orang dari para shahabat yang terbaik hapalan dan bacaan al-Qur&#8217;an-nya memindahkan kumpulan-kumpulan al-Qur&#8217;an yang dikumpulkan berdasarkan perintah Abu Bakar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dan ketika mereka telah selesai memindahkannya, Utsman mengirimkan mushhaf tersebut keseluruh kota-kota Islam dan memerintahkan untuk membakar mushhaf-mushhaf selain mushhaf yang dikirim olehnya dan tidak ada dari para shahabat yang mengingkari pembakaran tersebut kecuali apa yang diriwayatkan bahwa Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>  tidak menyetujui mewajibkan kaum muslimin untuk hanya menggunakan mushhaf yang dikirim oleh Utsman <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dan dia tidak mengingkari pembakaran mushhaf.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Fatwa Lajnah Daimah, Jilid IV hal. 100.)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hananismail.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hananismail.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hananismail.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hananismail.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hananismail.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hananismail.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hananismail.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hananismail.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hananismail.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hananismail.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hananismail.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hananismail.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hananismail.wordpress.com&blog=732240&post=90&subd=hananismail&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hananismail.wordpress.com/2007/06/24/mushhaf-al-quran-yang-sudah-rusak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/13e69b5b13101f7149e4cc16f0fec342?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Hanan Bin Ismail</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>